1 Komentar

CERPEN


Tepian Mahakam Kenanganku

 

Miady dari jauh terlihat gontai, tidak memiliki semangat, bermalasan itulah kemauannya. Yadi, Upik, Harianto, Melody jadi ikut-ikutan lesu. Bangku panjang yang berada di depan kampus menjadi arena panggung patung. Mely dan Intan yang melintas didepannya heran.

“He, To, Dy. lagi demo yah. Kok disini, didepan kampus sono. Disini mana bisa dilihat atau didengar dosen-dosen.”

“ Iya. Lagian ada apa sih ? ada masalah serius banget sampe dilamunin. Segitunya, manja kalian memang ! Masukan tuh.”

“ Ha… “ helang nafas” Masuk sendiri sana. Emangnya aku anak kecil apa ? Aku denger tahu,” omel Upik. Ia baru tersadar, setelah mely dan Intan menghilang dari hadapannya. “ Eh kok aku jadi ngelamun yah. He, Yadi, Melody, To, kok jadi ikut-ikutan Miady ngelamun.”

Yadi menepuk pundak Miady. “ Ada apa man ?”

Miady menoleh sebentar lalu membuang pandangan ke depan dengan tatapan kosong. Hatinya berbisik agar tidak menceritakan masalah keluarganya. Dari raut wajahnya miady seolah telah berkata bahwa masalah kali ini bergitu serius dan tidak bisa dianggap enteng.

“ Pasti masalah keluarga. Ada apa lagi sih.” Tebak yadi. Kedua Alis matanya naik tanda prihatin dan mengeluhkan sikap miady yang selalu membuat masalah kecil menjadi besar.

“Ini tentang aku. Sampai kuliah semester 5 pun aku juga belum punya pacar. Aku malu sama kamu Yadi, Upik, Harianto dan Melody. Aku merasa tidak menarik bagi cewek yah.Padahal aku sudah berusaha, tetapi selalu gagal. Entah kenapa kalau aku berada didepan cewek lidahku kaku, ngomong jadi gagap. Apalagi kaki nih tiba-tiba bergetar tidak henti-hentinya.”

“ Sabar, kalau sudah ketemu jodohnya pasti tidak kemana ? asalkan kita terus berusaha. Jangan pernah kenal putus asa. Angap kegagalan pertama bearti kesuksesan yang kedua, atau jika kedua juga gagal berarti kesuksesan yang ketiga dan seterusnya.” Upik bangkit berdiri dihadapannya menyemangati.

Yadi menyelami raut wajah Miady, pikiranya tertuju pada keadaan rumah tangga Miady beberapa waktu lalu yang pernah ia saksikan dan dengarkan sendiri. Dengan instingnya ia mengatakan kalau bukan masalah ini yang sedang dihadapinya. “ Sudalah Miady. Tidak usah menghibur diri sendiri.”

Miady perlahan menatap yadi yang berada didekatnya sepertinya yadi yakin apa yang barusan dikatakannya. Ia merasakannya. Begitu juga Upik, miady juga mengira sudah tahu, makanya ia selalu memberikan semangat.

“ He, kok jadi serius ini sih. Yadi, emangnya kamu tahu yah sebenarnya terjadi pada Miady.” Tanya Harianto.

“ Jika semuanya tidak saling terbuka tidak apa-apa. Toh itu privasi, tapi kita kan sekarang dikampus. Apa kita tidak bisa melupakan semuanya sebentar dan bersenang-senang. Setelah kita keluar dari sini silahkan. Mau nangis sekeras-kerasnya juga boleh, mau marah silahkan luapkan. Setuju..” melodi berusaha menghidupkan suasana dengan menjadi cahaya penerang teman-temannya.

Miady sejenak merenung, ditatapnya melodi yang begitu serius akan ucapannya. “ kau benar Odi, Yuk masuk kelas udah dimulaih nih. Kita memang harus semangat,” Miady menganguk-anguk mencoba menunjukan pada teman-temannya kegembiraan yang sebenarnya.

Yadi mengikuti dibelakanganya. Ia masih memikirkan persoalan yang sedang dihadapi Miady. Hatinya selalu berbisik. (Miady kau mencoba untuk tegar dan tetap tersenyum dedepan kita semua. Tetapi sebenarnya hatimu keropos, lapuk dan menderita. Aku sangat merasakannya. Aku sebenarnya mau menangis, tetapi air matakku seolah kering.) bathinya.

Paruh waktu dosen memberikan kualiahnya,Yadi ijin keluar ke kamar kecil. Tetapi diujung ruangan ia berbelok menuju kekantin. Sebatang rokok dari balik bajunya, disulutnya.

“ Bu, Susu kopinya 2.” Dari wajahnya tertulis, kalau saat ini ia sedang memikirkan masalah Miady. Jiwa sosialnya itu tidak bisa dibendungnya untuk membantu sahabatnya.(Aku harus mencari tahu, ada apa yang sebenarnya terjadi.) bathinya.

Mely, Intan setelah ke kamar kecil menyepatkan kekantin untuk melepas kejenuhan. Ternyata Yadi juga ada dikantin.

“ Hari ini pusing banget yah kuliahnya.” Kata mely keras-keras agar yadi mendengarnya.

“ Iyah. Kamu pusing juga Yadi,” sela Intan.

“ Aku lagi bingung, Miady sepertinya ada masalah  besar  sedang ditutupinya. Akukan tahu Miady orangnya nekatan. Aku hanya kawatir dia akan melakukan hal-hal gila.”

“ Misalnya apa Yadi, “ tanya Mely.

“Bunuh diri. Soalnya ia pernah cerita dulu. Katanya ia pernah akan melakukan bunuh diri.”

“ Masalah apa yang membuat Miady nekad seperti itu.” Tanya Intan.

“ Itu die tan, aku gak tahu. Soalnya dia selalu hanya cerita hampir bunuh diri, tetapi gak jelasin kenapa. Aku bilang apa gara-gara cewek ia geleng-geleng, masalah keluarga juga sama. Makanya aku bingung.”

“ Yadi, coba kamu ajak dia ke Tepian mahakam. Santai sambil ngobrol biar pikirannya plong. Mulailah saling cerita, dan pancing-pancing agar Miady mau cerita.”

“ Yah eluh Mel, kaya gak tahu Miady saja.”

“ Cara itu sangat bagus, Yadi. Coba saja. Kalau kita biasanya asyik ngobrol biasanya kita keceplosan, ceritaian hal-hal yang paling pribadi. Padahal hal itu telah dipendam dalam-dalam.”

“ bener juga Tan, okelah.” Yadi bangkit.

“ mau kemana ?” teriak mely.

“ kembali kekelas, sekalin bayarin yah kopi susuku, thanks yah mely, Intan atas sarannya dan susu kopinya.”

“ Hu….. resek.” Gumam Intan dan mely.

“ Kita dikerjain hari ini.” Celoteh Mely.

Semua berkumpul di sebuah kafe ditepian mahakam tepatnya di depan kantor Gubernur Kaltim ada Miady, Yadi & Mirta, Upik & Lisa Harianto & Yani,  Melody & Selvi. Pemandangan malam ini begitu berbeda dengan hari-hari sebelumnya terlihat ramai, padahal hari rabu bukan malam minggu.

“ Ada apa kalian membawaku kesini, “ miady menatap sahabatnya yang masing-masing berpegangan tangan dengan pacar sangat mesra membuatnya iri.

“ Sory. Miady bukan maksud saya mau memerkan pacar-pacar kita  didepan kamu. Hanya saja pacar-pacar kita mencurigai kita ketemuan disini. Jadi mereka memaksa ikut jika memang bukan hal macam-macam, katanya.” Melody menjawab kegelisaannya.

“ kalau begitu cepat omongin. Aku ngantuk nih.” Miady berakting menguap beberapa kali.

“ begini Dy, sebenarnya kami sedang merayakan hari kebersamaan dengan pacar-pacar kita.” Urai harianto sok tahu, padahal sebelum kesini sudah dijelasin ama Yadi, bicarakan yang penting bisa mengulur waktu sampai gadis yang akan dijodohkan datang.

“ katanya tadi, cewek-cewek kalian memaksa kesini. Nah pasti kalian merencanakan sesuatu.” Tebak Miady.

“ Ah, Ody sama Harianto paling pinter kalau lagi becanda. Enggak Miady, pesan saja kita traktir kok.” Kata yadi memasang muka serius.

“ bener nih ditraktir, “ Miady menatap semua teman-temannya.

Upik, Yadi, harianto dan Melody mengintip dompet masing-masing. Saat miady memesan. Keempatnya saling berbisik.

“ Gimana Nih, aku Cuma bawa Rp 5.000 saja.” Bisik Harianto.

“ Aku bawa Rp 15.000, kamu berapa Pik, melodi.”

“ Rp 10.000”

“ Yah tinggal uang keramat 5.000 juga.”

“ Ngomongin apa sih yang, kok bisik-bisik segala.” Tanya Mirta ke Yadi.

“ Yang, gini. Boleh gak aku pinjem uang 50 ribu saja.”bisik Yadi, saat mengungkapkan itu malunya seperti berlipet-lipet. “ Soalnya rencana ini dadakan aku sampai lupa buat anggarannya.” Ngelesnya agar sedikit membuang rasa malu itu.

Akhirnya semua pacar menyumbang dan terkumpulah 120.000. saat yang bersamaan, Mimi datang.

“ Lama nunggunya, “ sapa Mimi pada sahabat-sahabatnya.

“ Eh mimi, kok kamu pake beju seksi begini. Apa kamu gak risih.” Sawang Lisa.

“ Norak luh. Lisa ini yang paling mode. Mana cowok yang mesti aku taklukan.”

“ Hust, jangan keras-keras itu orangnya.” Yani menunjuk kebelakang Mimi.

Mimi menoleh sejenak.” Yah lumayan, dari pada aku jomloh.”

“ Aku minta kamu jangan mainin dia yah kalau sudah jadian, karena sekali saja kamu membuat kesalahan dan membuatnya sedih aku jamin aku akan mencarimu kemapun kamu pergi. Kelobang semutpun akan kukejar.” Ancam Yadi.

“ Kalau mau putusin dia harus ada alasannya yang tepat.” Sambung Upik.

Miady datang sedang membawa banyak minuman dan makanan dan diletakan diatas meja yang  sedang dikerubungi teman-temannya. Ia masih belum sadar kalau ada seorang gadis telah bergabung. “ Ayo minum, aku juga pesan makanan.” Seru Miady membuat bulu kudu Yadi, Upik, harianto dan Melody merinding.

“ Oh iya Dy, kenalkan ini teman saya, kebetulan lewat sini jadi aku ajak untuk bergabung. Ayo kenalan.” Kata Mirta.

Miady menatap gadis yang berada disebelahnya perlahan dari ujung kaki hingga ujung rambut. (Cantik, bodi okey, tidak ada cacat, seksi dan ……Ah kok aku jadi mikirin dia yah. Oh jadi mereka merencanakan ini semua dariku. Baik, akan kukerjain luh..) bathin Miady.

“ Kenalkan namaku Mia Migela, pangil saja mimi.” Dengan gaya yang dibuat sedemikian rupa mimi memberikan tangannya.

“ Mimi, langsung saja mau pesan apa. Minuman dingin atau hangat, dan mau makan apa ? pesan saja.” Tawarnya. Saat miady berkata itu keempat kawannya pusing tujuh keliling dan saling tatap pasrah.

“ Emmangnya ada Sate, “ kata Mimi.

“ Ada, mau pesan sate.”

“ Boleh, “

“ Sebentar yah, lima menit akan siap.” Miady bangkit dan menuju kasir.

“ Mimi, emangnya kesini mau makan apa. Aku ngajak kamu kesini agar kamu bisa kenalan lebih dekat. Kok malah mikirin makan,” Celoteh Yadi.

“ Biar saja yang mau bayar kan dia, “ kata Mimi memandangi sohibnya.

“ Bukan Mimi, sebenarnya untuk membayar ini semua kita patungan. Kita keburu janji mau traktir Miady. Jadi gini deh jadinya,” Pelas Mirta.

Mimi langsung mengejar Miady ke kasir.” Dy, gak usah aku masih kenyang kok.” Bisik mimi.

(Ah. Jadi kamu baru tahu yah. Biar saja.) bathinnya.“ Waduh mimi, sudah jadi tuh, jadi biarpun gak jadi mesti harus bayar. Karena sudah dibuat.”

“ Yah sudah, “ Mimi kembali ketempat duduknya da tak enak dengan sohibnya.

“ Mampus deh kita semua.” Seru yadi.

“ Okey silahkan makan, “dengan lembut dan sopan Miady meletakan sate itu dihadapan mimi kemudian mengambil tempat duduk didekatnya. Miady memandangi sekelilingnya, dari raut wajah mereka seolah memberitahukan kalau saat ini mereka sebenarnya tidak sungguh-sungguh akan mentraktir. “ Kok dilihat saja, ayo donk Mirta, Lisa aduh intan ngapain dilihat saja. So makanan ini enak kok. Siapa dulu yang pesan, Miady gitu loh. So atuh.” Satu persatu dipandangi.

Yadi melirik Upik, dari lirikan itu seolah yadi mengatakan (kok jadi begini ceritanya. Uang cekak, gimana bayarnya) itulah yang ada dipikirannya bertanya kepada Upik, untuk mencarikan solusinya.

Usai makan Yadi, Upik, harianto, dan melody keempatnya menuju kasir yang berada agak jauh dari mereka duduk.

“Mba, berapa meja nomor 5.” Seru Yadi.

“Rp 150 ribu mas.” Kata waitres cantik itu.

Upik menghitung uang patungan tadi, uang semjumlah Rp 120 ribu walau ia tahu gak  bakalan nambah  kalau dihitung beberapa kali. “ Waduh mba, gimana yah. Hanya ada uang Rp 120 ribu.”

Harianto membuka jam tangannya.”Kalau ditambah jam tangan ini bisa gak mba, hanya jaminan. Besok saya ambil lagi jam ini. Gimana mba ?”

“ Boleh lah. Awas besok jangan lupa yah ambil jam ini.” Seru waitres.

“ Beres mba, pokoknya mba malam ini cantik deh.” Goda harianto.

Waitres itu hanya nyengir sambil melirik mengawasi mereka hingga kepergiannya dari areal kafe yang beratapkan langit, beralaskan rumput hijau yang berembun.

Sementara itu gang motoran yang dikomandani Frenklin sedang adu balap di lapangan Stadion pustlada sempaja. Ini adalah adu pertama kali di stadion yang baru dibangun oleh pemerintah Kota Samarinda. Setelah balapan di Jalan Rifadin Samarinda seberang dilarang oleh satuan DLLAJ Poltabes Samarinda karena dinilai membahayakan penguna jalan.

Frenklin setelah berputar 20 kali lalu berhenti diantara teman-teman dan ceweknya yang berada di kiri gelanggang.

“ ternyata disini lebih Asik, dan bebas.” Frenklin membuka helm standarnya.

“ Gak rugi kan bayar Rp 200 ribu bulanan disini.” Sahut Ricard yang telah mengusulkan adu balap di stadion lebih aman.

“ Cad, kamu tahu darimana soal gedung ini bisa digunakan oleh umum.” Tanya Eric.

“ Dari koran. Tempat ini memang sangat representatif. Siapa tahu kita nanti dilihat KONI kaltim berbakat ikut ajang Road Race atau Motor GP. Banyak keuntungannya kan. Apalagi PON kalai ini bergengsi loh Nasional. Frenklin gak bakalan kita rugi gunakan fasilitas ini.”

“Frenklin gimana besok kita tantang, Abu balapan.” Usul Roy.

“ Iya Klin, biar tambah seru. Sekaligus pralatihan, soalnya kan dia bekas juara nasional.” Dukung Simon sembari merangkul Roy dan Martinus.

“ Boleh, “

“ Biar aku dan Roy yang kesana besok yang akan memberitahukan tantangan kita ke Abu.” Sela Martinus. Beberapa kali tangan kananya menepuk pundak frenklin membesarkan hatinya.

Sendi yang juga tadi sempat adu balapan berboncengan dengan lulu, mendekat ketaman-temannya.

“ Gila kamu, gak takut mati Frenklin. Aku saja ditikungan itu mengurangi gigi. Hebat man,” Puji Sendi.

“Ban luh sih ketingalan zaman. Ganti dong dengan ban Recing,” seru Frenklin.

“kalau kau mau sendi besok aku tolongin ganti ban motormu. Soalnya besok frenklin akan menantang Abu balapan.”Ricard mendekat ke motor sendi.

“ Gila kamu Frenklin. Abu itu jago balapan, ajang road race selalu dimenanginya. Urungkan saja niatmu itu.” Nasehat Lulu.

“ Iya benar apa kata lulu.” Sambung Sendi.

“ Enggak Sen, Lu. Justru ini tantangan. Aku Cuma ingin mengukur kemampuanku. Yah standarisasi saja,”

“Sudahlan Sen, biarkan saja” potong Eric.

“ Bukan begitu Ric, Abu itu selain jago balapan juga licik. Aku hanya takut saja. Kamu terjadi apa-apa dengan frenklin.”

“ Thank Sen, mau memperhatikan aku. Tapi aku janji aku tidak apa-apa. Pokoknya beres dah,”

“ besok kamu datang kesini kan Sen, lu.” tanya Roy agak keras.

“ pasti man.” Sendi mengacungkan jempolnya pada teman-temannya.

“ Sudah malam, pulang yuk, “ ajak lulu.

“ Iya, besok kelasnya dosen kiler. “ sebut Martinus lalu menuju motornya.

Secara beriringan ketujuh kendaraan moor itu keluar stadion. Dipintu gerbang stadion ketujuhnya berpisah. Sendi yang berboncengan deengan Lulu belok kiri, satu jalur dengan Roy dan Frenklin. Tetapi di simpang tiga kampus sempaja Frenklin belok kiri, sementara roy juga dipertigaan kantor RRI belok kanan.

Diatas kendaraannya,  Sendi menambah kecepatan menjajal motornya di jalanan umum. Polisi yang menyaksikan aksi itu langsung mengejarnya. Terjadilah saling kejar-kejaran.

“ Gila kamu Sen, melawani polisi gak takut tertangkap.” Kata lulu.

“ tenang saja Lu, gal bakalan polisi itu bisa mengejarku, sekalipun didepan aku sudah dikepung.”

“ lewat jalan tikus itu kan keahlianmu.”

Ditepian malam itu rupanya masih padat, ada sebuah kendaraaan mengahalanginya, Sendi beberapa kali membunyikan klason motornya, setelah motor didepannya minggir, ia memepetnya.

” Hei, kalau berani ayo kita adu kecepatan berani gak sama cewek.” Seru Sendi menoleh seraya membuka kaca helmnya.

Mendapat tantangan itu biarpun motor hitam jenis Supra yang ditumpanginya bukanjenis motor balapan ia nekad melawaninya dan langsung melejit mengejar motor sendi. Terjadilah saling kejar-kejaran keduanya sempat dua kali keliling kota dan akhirnya berhenti di tepian.

“ Wauw, ternyata kamu hebat juga yah. Padahal motor biasa 4 tang semi otomatis.” Pujinya.” Boleh donk kita kenalan.”Ajaknya untuk berkenalan, sama seperti yang ia lakukan saat bertemu Roy dan Martinus.

Ketika Sendi membuka Helm, Miady terpesona dengan wajah Sendi yang menawan  dan imut-imut ketika cahaya lampu jalanan yang tidak begitu terang menyinari kulit wajahnya putih dan halus itu.

“ Sendi, dan ini Lulu.”

Meskipun Miady memberikan uluran tangan perkenalan, saat itu dipikiranya hanya kekaguman atas kecantikan Sendi. “Ngomong-ngomong kalian cewek hebat yah bisa tidak tak terkejar polisi. Padahal mereka terlatih loh. Aku salut sama kalian sungguh berani. Baru kali ini aku bertemu cewek seberani kalian” balas memuji.

“ Kamu juga hebat Dy, jadi jangan memuji nanti kita jadi besar kepala nih. “ Sendi terkekeh melucu, walaupun itu tak lucu seraya menatap Miady. Saat itu ia melihat di balik roman Miady yang cerah itu seperti ada getaran yang lain yang muncul dari senyumannya dan langsung menusuk jantungnya. Hal itu dirasakan ecap kali menatap Miady.

“ Kamu ada apa Sen. Kamu pasti sakit. Lu, sebaiknya kalian pulang.”

“ Iya, memang kami kecapean. oh iya boleh tahu donk nomor HPnya.” Pinta Lulu sambil memasang helm bersiap-siap cabut meningalkan malam.

“085247029988.” Setelah menyebutkan beberapa angka Miady kemudian meningalkan tempat itu disusul Sendi melalui jalan yang lain. Karena takut polisi itu masih mengejarnya.

Tidak biasanya Yadi pagi-pagi sekali sudah dirumah miady membuatnya aneh, sejuta pertanyaanpun muncul.

“ Ada apa Yadi pagi-pagi sekali udah kerumahku, pasti kamu ada masalah.” Handuk yang masih menempel di pundaknya menandanakan ia baru saja selesai mandi. Dihampirinya Yadi dan duduk tepat di sebelahnya sama-sama menatap ke halaman dengan tatapan kosong.

“ Gini Miady, gue hari ini memang lagi bete saja dan mau kesini.” Ketika Yadi melihat Miady akan memotong pembicaraan buruan mengelesnya.” Eit, ini bukan soal Mirta, atau keluargaku. Pelajaran juga bukan, aku Cuma mikir kayaknya fakultas yang aku ambil salah deh. Rasanya kepengin aku pindah fakultas.”

Kedua tangan Miady dengan handuknya bergerak naik turun mengeringkan rambut dan tubuhnya yang masih basah. “Tanggung, kalaupun bisa gak bakalan kamu bisa mengejar ketertingalan di fakultas itu. Emangnnya kamu mau pindah kemana ?”

“ Jurnalis, paling tidak Informatika dan Komputerisasi.”

Miady bergerak masuk kedalam.” Yadi, masuk, “ menuju meja makan.”Lihat makananku sehari-harinya. Emie…..!” Miady kekamar untuk berpakaian.” Memang sih. Aku juga ngerasa fakultas stikon ini juga kurang pas, gak sreg di hati. Tapi yah, gimana sudah terlanjur. Kepalang basah.”

Yadi duduk dimeja makan sambil mendengarkan Miady mengoceh di dalam kamarnya. Yadi juga mengawasi seisi rumah. “Sebenarnya sih saya gak jadi soal mau masuk fakultas kemana aja. Yang penting begitu lulus bisa kerja.”

Miady melongok Yadi.”Betul itu yang penting bisa kerja.” Tak berapa lama Miady telah siap untuk pergi kekampus. Ia mengambil tempat duduk di meja makan berseberangan dengan jainal. “ Ayo  Yadi, kita makan. Pasti kamu belum makan kan. Yah beginilah orang susah.” Miady melototi rantang yang berisi sayur Mie, tempe, dan Ikan kering. Melihat itu menghelang nafas panjang.

“Ngomong-ngomong kok rumah sepi pada kemana ?” tanya yadi sambil mengambil tempe dan ikan asin.

“ Ada Keluarga kawinan, jadi pada nginep semua disana.”

(Berarti dugaanku benar bahwa Miady ada persoalan dengan keluarganya. Cerita ini bohong atau tidak saya gak tahu sebelum membuktikannya. Tapi  dilihat dari berhamburannya isi rumah bahwa tempat ini telah terjadi pertempuran hebat. Sebaiknya aku hati-hati memancingnya) “ Miady, menurutmu Mimi cantik tidak,”

“ Kan. Aku sudah tebak kamu akan membicarakan ini.”

“ Bukan menjodohkan hanya mengenalkan siapa tahu kamu suka dan jodoh, tetapi beneran kok tujuan itu ada. Tapi soal ketemu di café malam tadi memang bener-benar kebetulan bukan direncanakan.”

“ Sudahlan Yadi aku kenal kamu. Lumayan sih tapi agak jutek. Aku kan paling benci dengan cewek yang jutek apalagi sombong. Gak ada cerita.”

“ Emangnya kamu suka cewek yang gimana sih, “

“ Kriterianya hanya lima. Gak terlalu cantik gak apa-apa asal setia, kedua Bodi harus aduhai, ketiga peyayang, keempat menerima aku apa adanya, dan terakhir tentunya seiman bila perlu rajin sholat. Nah tuh baru aku pertimbangkan.”

“ Kok baru dipertimbangkan berarti ada kriteria lain donk.”

“ Ini yang penting, cewek itu gak boleh mengatur-atur aku, kalau perhatian silahkan asal pada koridor yang benar.”

“ sampe tua juga kamu gak bakalan dapet cewek Dy…Dy…., bila prinsip itu diterapkan. Yang luwes saja, Simpel. Kalau aku hanya dua,  setia dan cantik, udah beres kan. Dua cewek sekarang ngantri lagi pingin jadi pacarku.”

“Jualan loket apa ngantri segala. Tuh cewek pasti kecentilan. Tapi itu prinsip Loh. Gue kan lain, gak levellah yang begitu-gitu .” Miady teringat cewek yang malam itu. “ Eh yadi ngomong – ngomong soal cewek. Malam tadi sewaktu kita pulang dari kafe itu di tepian aku ketemu cewek cantik. Udah begitu seksi lagi, yang gak bisa aku tahan sorotan matanya itu loh yang membuat aku dag dig dug. Namanya Sendi dia berdua sama temannya namanya Lulu kalau tidak salah denger. Lulu sempat minta teleponkku, tapi sebenarnya yang aku taksir si Sendi. Tapi aku kasih saja siapa tahu itu hanya akal-akalannya Sendi,”

“ Supe Luhhh.”

“ Yah gak percaya. Saat kenalannya sih sewaktu dia mancing-mancing aku ngajak kebut-kebutan. Kulayani donk. Waktu itu aku gak tahu cewek apa cowok, hanya saja Lulu sempat membuka helm, makanya aku layani saja. Ternyata dia lagi dikejar-kejar polisi. Masih sempat-sempatnya yah. Akhirnya kita berhenti di tepian Mahakam. Disanalah kita kenalan. “

“ uah syukurlah kalau kamu akhirnya laku.”

“ heeee ….” Miady menunjuk Yadi yang sedang mengejeknya.”Udah brangkat Yuk, entar telat lagi.”

Disebuah gardu listrik ukurannya sebesar pintu rumah, tepatnya di Dekat Gudang beras yangsudah tidak terpakai lagi. Martinus dan Roy menghentikan motornya ketika melihat Abu duduk bersadar di gardu bersama kawan-kawannya.

“ Apa kabar man.” Martinus dan Roy salam metal dan saling sambut tangan tos.

“ Tumben kesini ada apa ?” tanya Abu wajahnya menujukan kesinisannya.

“ Ada proyek, “ sebut Martinus.

“ bener ini bisa menghasilkan uang jika kamu mau.” Sambung Roy.

“ Katakan proyek apa. Aku kan tahu kalian suka memberikan proyek teri, Cuih…” Abu membuang ludah.

“ Ini lain. Frenklin nantang luh balapan entar malem di Stadion sempaja.”

“ basi. He… Martinus sudah banyak duit die. Apa yang dulu-dulu tidak kapok. Untung waktu kecelakaan itu gak mati dia.”

“ Justru itu Man. Sejak ia sembuh dari patah kakinya ia sering belajar  dan menurutku perkembangannya sangat cepat dan maju. Mungkin aku sangsi apa luh bisa ngalahin.”

“ Ha … ha …. Ha….”Dedi, Yoman dan Teri menentertawakannya.

“ baik kalau memang dia punya banyak duit gak jadi masalah. Mau sembuh dari patah tulang, atau mati aku tak peduli yang penting duit.” Sebut Abu.

“ Dill, “ martinus salam metal dengan Abu tanda persetujuan entar malem untuk bertanding. “ Okey Man, sampai ketemu entar malem.” Martinus dan Roy langsung cabut meninggalkan tempat itu.

Istirahat di kampus perpustakan memang tepat untuk mengirit uang saku, selain itu nambah ilmu. Miady, Yadi, Upik, Harianto dan Melodi mengambil meja yang berada di pojok.

Yadi membaca Buku Dolpi 7, dia terlihat tidak begitu serius membaca ia hanya melihat-lihat saja lembar-demi lembar halaman. Upik, membaca sejarah, Harianto membaca Stigma Hacker, Melodi membaca Adope Photo sementara Miady membaca Biologi. Bacaan yang aneh.

“ Ternyata laki-laki dan perempuan memiliki sel dan struktur bakteri yang berbeda yah. Coba lihat ini..” Miady menujukan pada teman-temannya di halaman 105.

“ Sok tahu kamu Miady.” Ketus Yadi.

Miady menunjukan pada yadi.

“ Ah, gak penting dibahas. Pik, har, melodi. Kalaian tahu gak sekarang Miady lagi naksir cewek. Ii bukan gosip namanya Sendi.”

“ bener itu Miady, “tanya Harianto.

“ Laku juga luh..” ejek Upik.

“ Brengsek luh.” Miady mengeplak Upik.

“ So… tinggal dimana gadis itu.”kata Melodi.

“ Tidak tahu. Orang kita baru bertemu tandi malam sewaktu pulang dari kafe. Yang penting kan tahu nama.”

“ Oh iya. Tapi temannya Sendi tahu nomor HP Miadiy Kok.” Sambung Yadi.

“ Bagus. Tunggu saja ampe ubanan.” Celetuk Upik.

Melodi menepuk pundak Upik.” Jangan kelewatan sama teman, dukung saja. Walaupun itu tidak mungkin. Sekali-kali bukun hatinya senang,” Tuturnya.

“ Sudahlah. Aku juga tidak terlalu mengaharapkannya kok.”

“ Tuh kan Pik eluh Sih. Ngambek deh si bujang lapuk.” Ejek Yadi. “ Sory becanda.”

“ Tapi emang bener sih.” Muka harinto sedikit ketus.

“ Ah eluh. Gak ada dukung-dukungannya sama teman. Temen apaan, …” Miady membanting bukunya terus pergi.

Sendi mengitari halaman depan rumahnya dengan santai, menghirup uadara pagi menjelang siang. Matanya yang bening mengawasi pucuk bunga-bunga yang mekar dihalaman, sambil sesekali menyentuh bunga dengan lembut. Tawa kecilpun terukir dibibirnya yang sensual.

Lulu yang baru datang,  perlahan-lahan mendekati sendi dan mengejutkannya. Terang saja Sendi yang saat itu pikirannya melayang tinggi loncat hingga 3 lankah.

“ Gila Lu. Kaget banget gue. Untung gue gak punya penyakit jantung, kalau gak koit dah.”

“ habisnya dipanggil-panggil gak yautin.”

“ Sumpeh luh, kok aku gak denger yah.”

“Itu artinya kamu lagi jatuh cinta.”

“ Jatuh cinta dengan siapa. Ah ngaco kamu.”Sendi melangkah kedalam rumah diikuti Lulu dan duduk diruang tamu. “ Kesini ada apaan nih.”

“ Wah, kayaknya luh udah jadi tua yah. Pantes tuh, ubannya banyak sekali. Non cepet-cepet kawin entar keburu mati lagi.”

“ Gak usah nyindir. Beneran aku lupa. Apaan sih.”

” Nanti malam jadi gak. Ke Moll, soalnya kalau gak kita Stadion saja. Berikan semangat Frenklin.”

“ Kayaknya, entaran aja lah ke molnya. Aku ingin tahu seberapa hebat Sih abu itu.”

“ Aku denger-dengar dari Ricard. Katanya ia bekas juara Motor GP sirkuit Sentul. Versi Grank Prix Yahama 4 Tank. Bahkan kalau aku tidak salah dengar, dalam beberapa bulan ini ia akan bertanding dengan Rossi juara Dunia GP dari italia. Mereka satu angkatan sewaktu diasuh Sabastian Domingo, dari Mexico.”

“ Kok “ Sendi mengerucutkan alisnya menatap Lulu heran. “ kamu tahu banyak yah.”

“ Ah elu Sen, bencada lagi. Eh cowok yang tadi malam itu juga hebat yah. Walaupun hanya menggunakan kendaran Standar ia mampu mengalahkan kamu Sen.”

“ Aku yakin tadi malam ia hanya modal nekad. Kalau disirkuit gak bakalan berani.” Merasa perutnya keroncongan dan Lulu belum disuguhi minuman sambil ngobrol kedapur dan meja makan, mencari sesuatu yang bisa bikin ganjal perut.

“ Jangan meremehkan, aku akui dia lincah kok. Gimana kalau kita undang dia noton bareng kita. Siapa tahu dia terkena virus balapan kita. Kan jadi nambah tuh. Sekalian membuktikan omonganmu itu,” serunya lantang, agar Sendi yang sedang didapur mendengar jelas.

“ Terserah kamu, “ Sendi kembali dengan minuman dan roti.

Lulu menyedu minuman sebelum mengambil Hp dibalik bajunya. “085247029988, cantik juga yah nomornya.” Lulu menunggu sejenak panggilan keluar. Dari seberang Miady menyahut, suara kecil ditelinga terdengar storing dari seberang. “ Hallo ini dari cewek motoran yang tadi malam, masih ingat kan.”

“ Iya, Kamu pasti lulu.”

“ Kok tahu, paranormal yah.”

“ Kan eluh yang minta nomor telepon semalem.”

“ Oh iya, aku lupa.” Seyumnya. Sendi yang memperhatikan Lulu nyengir sewot.

“ Ada apa ? Aku lagi dikampus nih sebentar lagi mau masuk, buruan yah.”

“ Oh jadi kamu masih kuliah, semester berapa, jurusan apa ?”

Mendengar rayuan Lulu, Sendi dengan gerakan tangan dan mimik mukanya mengejek.

“Sementer lima, fakultas Stikom. Emangnya ada apaan.”

“ Engak ! mau tahu aja. Oh iya nanti malam ada acara.”

“ Emmmmm ..Kayaknya sih enggak, emangnya kenapa ?”

“ Kalau kamu mau tahu, entar malem aku tunggu di stadion Sempaja. Jangan gak datang loh.”

“ Insya allah, aku gak janji. Tapi akan kususakan datang. Boleh bawa teman.”

“ teman cowok boleh, kalau wanita jangan deh, nanti kita cemburu lagi. Oh enggak becanda kok. Bawa aja enggak ada yang melarang.”

“ Sip…”

Lulu lalu menutup teleponnya sambil menunjukan kegirangannya.

“ Lu, Kamu naksir dia yah.” Pikir Sendi agak sedikit sedak di tengorokan mengutarakannya.

“ kalau iya, kenapa dan kalau enggak kenapa,”

“ IH. Ditanya malah nanya ? Gelo luh. Udah habisin aja rotinya.”

Dengan terawangan sejuta tebakan dan dugaan menghias langkah gontainya Miady. HP yang berada di tanganya perlahan diselipkan kebajunya. Yadi, Upik, Harianto dan melodi yang mengikuti mendengar semuanya.

“ Ce Ile …. Cewek semalem yah.” Goda Harianto.

“ He Dengar semua warga kampus Miady punya gebetan …. Oi.” Teriak Upik disambut sumbatan mulut oleh Yadi.

“ Jadi bener, mau apa dia mengajak temuan.” Cerca Yadi.

“ bego Luh. Yah Udah pasti ngajak ngedate lah.” Melodi memotong pembicaraan.

“ Kalian entar malem temani aku yah kesana.” Dari cara miady meminta bantuan ia terlihat tidak bersemangat. Hal itu mengartikan bahwa Miady tidak terlalu mengangap ajakan itu serius.

“ Eit, …..Pacaran rame-rame. Norak Luh. Enakan Sendirian apalagi kalau ditempat sepi, tangan kita bisa aktif. Lagian malam ini ada artis jakarka konser di GOR jadi Sorri, aku gak bisa temani.” Upik menekankan kata terahirnya dekat telinga Miady.

“ Miady. Apa tidak sebaiknya kamu sendiri.” Cetus Yadi.

“ Iya kaya anak mami saja.” Sambung Harianto.

“ Emangnya ngajak kemana sih.” Tanya melodi memastikan.

“ Stadion Sempaja.”

“ Pasti Lulu dan Sendi Olagarawan. Ototnya pasti besar dan kekar. Massa itu tipemu Miady. Katanya suka cewek yang caem alias cantik dan manja.” Ketus Upik.

“ Ah gak semua. Lagian belum tentu dia oleh ragawan.” Kata yadi.

“ Kalau bukan ngapain dia kesana. Buang-buang duit. Masuk areal saja harus bayar parkiran. Apalagi sampe masuk gedung. Kalau tidak ada hasil. iya kan Har, “kata Melodi.

“ Hati-hati Miady, siapa tahu dia karatendo. Dari ceritamu tadi membuktikan pasti dia seorang pesilat tangguh. Awas tuh….!” Upik mencoba memperingatkan dengan guyonnnya.

“ Miady.” Yadi merangkul dan mengiringnya ke sebuah bangku yang terletak dihalaman perpustakaan dibawah pepohonan yang rimbun. “ Memang sebaiknya kamu datang sendiri. Kalau ada apa-apa kamu bisa hubungi aku, aku ada di mol Matahari untuk jaga-jaga. Tapi aku yakin, gadis itu tidak akan membuat hal buruk. Apalagi baru kenalan iya kan. Logika harus jalan.”

“ Tapi Yadi, kata Upik itu ada benarnya.”

Yadi melipatkan tangan kanan Miady dan meletakannya di dadanya. “ Percayalah, ini adalah jalan yang telah diberikan Allah untuk kamu lalui. Ok. “Ketika Miady akan mengeles, yadi memotong.” Gak ada tapi-tapian, kamu pasti sukses. Renungi itu dan buatlah rencana nanti malam, “ Yadi pergi dan mengiring yang lainya agar membiarkan Miady sendiri.

Miady masih bingung dengan kata-kata Yadi, tetapi sebenarnya ia tahu maksud dan arah tujuan Yadi itu. “ Yang aneh aku atau mereka, “ pikir Miady. “ Emangnya aku naksir ama tuh cewek-cewek. Lagian yang aku pikirkan bukan itu, maksudku datang rame-rame.” Miady Baru sadar. “ He….tunggu….” Miady mengejar teman-temannya.

Dua Laight di Stadion Madya yang menerangi lapangan dan sekitarnya membuat malam ini terasa seperti disiang hari. Bermandikan cahaya Frenklin menujukan kebolehannya diatas sirkuit kecil di lapangan. Ia menujukan pada eman-temannya kalau dirinya akan mampu mengalahkan Abu. Sepeda motor Tiger Silver itu melayang diudara dan mendarat tepat didepan teman-temannya.

“Gimana, apa kalian masih meragukan aku.” Pinta Frenklin angkuh.

“ Aku yakin kamu pasti akan menang, “ Eric mendekat dan menepuk pundak Frenklin beberapa kali.

“ Tapi Frenklin kamu juga harus ingat, Abu bukan orang sebarangan. Mesti ati-ati.” Nasehat Ricard.

“ He .. Ricard, Kamu masih meragukan Franklin.” Kata Simon.

“ Jangan salah sangka dulu. Kalian ingat kan siapa Abu. Simon aku yakin kamu gak pikun. Pengalamannya banyak makan asam garamnya sirkuit. Dari kebut-kebutan ditengah malam hingga hingga balapan kacangan dengan modal taruhan. Dia selalu unggul.” Kata Ricard.

“ Ricard benar Frenklin. Apa salahnya berhati-hati. Siapa tahu hati orang iya kan.” Bela Roy.

“ Dari pengamatanku Kamu masih kurang Frenklin. Kamu tidak ada apa-apanya dengan abu” kata Martinus.

“He…. kok malah sumpahin. Seharusnya luh beri dukungan agar Frenklin semakin semangat dan terdorong. Gimana sih, “ tonjok Eric ke dada Martinus pelan.

“ Sudah Ric!. Apa yang membuat pendatmu itu benar ?” tanya Frenklin.

“ Nekad, dia tidak takut mati itu kelebihannya.” Tambah Roy.

“ Bukan itu saja. Dia juga punya trik. Trik yang sangat licik. Bahkan Dewan juri sekalipun tidak melihatnya. Dalam setiap pertandingan Abu selalu berusaha membuat lawan-lawannya grogi, Ragu-ragu, itu wajar diatas motor kecepatan tinggi dan berusaha saling menyelip. Semua orang mengalaminya. Kelemahan semua orang itu tidak dimiliki Abu, mungkin saja, kalau dia mati tidak ada yang menangisinya. Dengan memanfatkan itu abu hingga juara tingkat nasional.”cerita Martinus.

“ He kawan kamu tahu darimana cerita itu, “ tanya Simon.

“ Tentu saja hanya pengamat Road Race dan pengemar balapan motor yang bisa melakukannya. Ternyata kamu suka juga yah nonton seperti itu.” Potong Sendi yangbaru datang bersama Lulu.

“ Tapi semua yang dikatakan Martinus itu memang benar. Frenklin kamu mesti waspada…” dengan kedua jarinya dimainkan untuk mendemokan nasehatnya agar frenklin selalu mengingatnya.

“ Ok, aku siap ! Toh kalah atau menang itu sama saja. Itung –itung ini latuhan iya kan.” Seru Frenklin tersenyum memandangi teman-temannya. “ Lu, kalau aku menang aku akan mentraktir kalian semua, makanya do’akan aku yah.”

“ Beres Coy…” sahut Lulu.

Saat itulah Abu datang bersama kawan-kawannya dan langsung menuju kearahnya. Selain mereka Miady juga datang dibelakangnya. Melihat Miady, lulu memanggilnya dan mengajaknya ke bangku yang ada distadion.

“ Lima juta, “ seru martinus pada Abu.

Dari atas motornya Abu merogoh baju yang terselip uang ratusan ribu dan menghitungnya. Lima juta diberikan kepada Martinus. Dedi, Yoman dan Teri tersenyum lepas seolah mengejek dan merendahkan.

“ Lima putaran mengelilingi stadion, setiap menyelesaikan putaran diwajibkan melalui halang rintangan di tengah stadion. Finisnyananti juga ditengah Stadion dan wajib melompat dan melalui 2 kursi itu. Jika kursi itu jatuh dia anggap telah kalah. Bagimana ?” terang Roy.

“ Good , aku setuju.” Menoleh ke arah Martinus.” Martinus, kau tahu aku, pasti aku akan menang,” tersenyum terkekeh membuat Frenklin panas.

“ baiklah silahkan penonton duduk di sama yah. Bangku VIP.” Sendi menuju tengah arena dengan membuka baju putih berkerahnya, sehingga sendi terlihat begitu seksi dan cantik dengan belahan dada kaos pres bodi warna hitam.

Frenklin dan Abu menuju garis yang ditetapkan Sendi sebagai garis star. Kedua motor mengerang sangat keras membuat menarik perhatian orang yang berada di Stadion, termasuk orang-orang yang sedang latihan karate digedung sebelah berlari menuju lapangan stadion untuk melihatnya.

Sendi mengangkat bajunya tinggi-tinggi menandakan bersiap-siap, “ Tiga, Dua, Satu Go ……(bersamaan dengan lambaian baju yang bergerak turun)” Frenklin dan Abu adu pacu kecepatan. Sendi lalu menuju Lulu yang sedang bersama cowok semalem.

“ Hai ……” sapa Miady seraya bangkit dari duduknya mendahului.

“ Duduk saja, masih ingat kan namaku.”

“ Tentu saja, hanya Sendi yang bisa bikin polisi kelimpungan karena kebut-kebutan dijalan.” Goda Miady.

“ kamu juga hebat kok, “ Lalu beralih konsentrsi menonoton balapan dan memberikan suport untuk Ffrenklin yang sekarang sedang memimpin. “ Terus Frenklin jangan beri dia kesempatan untukmenyelip. Iya seperti itu, “ teriaknya.

Lulu juga berdiri untuk memberikan semangat, melihat lulu berdiri disampingnya. Miady juga jadi ikutan berdiri menyaksikan balapan motor itu. Sesekali Miady melirik Sendi yang berada di dekatnya. Kala kepergok adu tatap, pura-pura Miady dengan cermat memperhatikan Abu da Frenklin yang sedang adu balapan hingga ia melihat kecurangan Abu dan trik yang dimainkannya setiap kali berada di halang rintangan. Miady menjadi pintar mengaplikan kondisi Frenklin yang sebenarnya tidak ada apa-apanya.

“ kalau pria yang memakai motor biru itu, “

“ Franklin namanya, “ sebut Sendi. Lulu yangberada disebelahnya memandangi Sendi dan Miady heran dengan mengendikan bahu.

“ Yah, frenklin sebenarnya sudah kalah sejak awal, “ komen Miady mengejutkan Sendi dan Lulu.

“ Sok tahu kamu. Jelas-jelas ia memimpin, “ ketus Sendi.

“ Pasti kamu punya alasannya. Apa itu Dy..”

“ Coba perhatikan Abu setiap kali berada dihalang rintangan ditengan lapangan itu. Abu memiliki banyak kesempatan untuk mendahului. Dan coba perhatikan itu, maksudku gerakan operan kopling dan laju kendaraam ketika berada dekat tepat dibelakang franklin. Jelas Abu memiliki banyak kesempatan apalagi ditikungan. Jadi menurutku Abu sedang membiarkan franklin untuk menang. Danitu membuktikan kalau fransklin itu tidak ada apa-apanya.”

“ kau benar, ….” seru Sendi pelan dan terus memberikan semangat. “ Franklin tambah kecepatannya lagi, jangan takut akan kecelakaan.”

“ lalu gimana caranya agar franklin bisa menang.”

“ Mudah saja, buat atas dia menambah kecepatan pada tiap putaran di tengah lapangan aku yakin dia pasti akan menang.”

Tebakan Miady terbukti kini Abu memimpin bahkan dengan hanya satu tangan, sambil mengejek.

“ yah, kalah deh tinggal 1 putaran lagi.”

“ Sendi, bilang dengan Franklin, pada saat mengoper gigi kedua di atas halang rintangan untuk menambah kecepatan maksimum sebisa ia mampu. Itu akan menambah cepat motor.”

“ Bukan sebaliknya, “kata Lulu.

“ Tidak, sebab pada saat motor menginjak ke tanah dengan gas maksimun akan menambah kecepatan di iringin dengan menaikan gigi. Motor akanmelaju dengan cepat.”

“ Franklin saat mengoper gigi dua diatas halang rintangan cepat tambah kecepatan maximum, jangan kau turukan gasnyaaaaaaa …” teriak Sendi.

Ricardm Eric, Simon, Ry dan martinus menoleh ke Sendi yang sedang semangat dan memberikan cara untuk menang. Dan ketika pada lompatan terahir semua tegang, Abu masih memimpin, sesuai intruktur Sendi Franklin mengikutikan dengan mengecangkan gasnya. Ketika Roda belakang menyentuh tanah gundukan terahir Frenklin melesat. Diatas udara Abu dan Franklin melewati halang rintangan terahir dua kursi yang disusun setinggi 5 meter. Keduanya secara bersama-sama mencapai tanah, namun franklin masih pada kecepatan tinggi sehingga ia memimpin 0,10 detik di finis. Karena tak bisa mengendalikan laju motor. Franklin terjatuh, tersered sejauh 15 meter.

Perlahan Franklin bangkit mendirikan motornya lalu menuju arah teman-temannya. Abu yang telah berada disana lebih dulu hanya tersenyum.

“ Ha …. Gila. Untung lapangan ini tanah coba kalau aspal pasti aku sudah mati.” Kata Freklin terputus-putus dan sambil menata nafas yang tersengah-senggah. Perlahan melirik Abu yang sedang tersenyum bersama kawan-kawannya.

“ Kau hebat, Frenklin,  jika tidak ada cewek itu pasti kamu sudah kalah. Ayo teman-teman kita pulang.” Dengan berkonvoi Abu dan kawan-kawanya pergi dengan berwibawa, seolah mengagap kemenangan Franklin hanya dirinya sedang mengalah.

“ he, abu…”teriak Frangklin agak kecewa dengan sikapnya barusan.

“ Sudahlah, biarkan saja dia pergi. Yang penting kita menang.” Kata Sendi.

“ Nah, jangan ingkar yah janjimu tadi.” Ancan Lulu.

“ Sendi, untung ada kamu. Aku tadi sempat berpikiran gak bisa bakalan ngalahin Abu.”

“ Itu bukan aku, tetapi dia yang menyuruhku memberitahukan itu kalau kamu ingin menang dan resikonya ini kamu luka-luka.”

Frenklin menatap Miady. Sendi memeriksa badan dan kaki Freanklin yang lecet-lecet,”Aku tidak apa-apa Sen, “ Franklin menuju Miady. “ Namaku Franklin,” mengulurkan tanganya.

Miady menyambutnya. “ Miady, Aku diundang Lulu untuk datang kemari.”

Semuanya mengerubungi Miady yang berada di koridor atap Stadion yang melindungi terik penonton.

“ Kalau kamu tidak keberatan ikulah dengan kami, untuk makan-makan. Saya yang mentraktirnya.”

“ Maaf, sebenarnya saya harus pulang cepat. Kebetulan rumah saya kosong, keluarga lagi dirumah saudara yang sedang kawinan. Sekali lagi maaf yah.” Tolak Miady.

“ Miady, ikut saja. Siapa juga akan merampok rumahmu. Ayolah, rejeki jangan ditolak. Mubazir.” Kata Lulu.

“ Sebaiknya, gak usah dipaksakan, dia ada keperluan dan itu artinya lebih penting.” Sindir Sendi. Ia terlihat sedang mengenakan bajunya kembali dari suaranya terdengar kecewa.

“ Kalau besok aku mau, “ tambah Miady untuk meredam kecewanya Sendi orang yang saat ini menjadi target.

“ Okey kalau begitu. Gimana biar Dill besok aja. setuju semua kan, lagi pula ini menang gara-gara dia iya kan.”pinta Martinus.

Ricard, Eric, Simon dan Roy setuju-setuju saja. Lulu terlihat menghelang nafas kecewa, tetapi ia mencoba untuk gembira didepan Miady.

“ Nanti kamu aku hubungi, nomornya ada pada lulu kan.” Pinta Frenklin.

“ kalau begitu saya permisi, “ pamit Miady agak canggung.

“ Thanks, …” sebut Franklin penuh perasaan. Matanya menatap ketempat lain.

Miady yang baru melangkah lima meter sejenak terhenti ia tidak menoleh. “sama-sama” ucapnya lirih lalu hilang terlindung fasilitas gelanggang Olah raga.

Ayam berkokok pagi menjelang, dengan malas Miady bangun gosok gigi, cuci muka, wudlu lalu sholat. Perlahan ia berjalan menuju teras rumah, masih memakai sarung dan kopiah, ia duduk diatas teras rumah. Dari raut wajahnya ia sedang memikirkan sesuatu yang mengusiknya. “ Kenapa tadi malam aku mau yah makan bereng mereka malam ini. Tapi ini kesempatan agar bisa PDKT. Tapi kayaknya Sendi tidak sukan denganku. Lulu cantik juga. Tidak ada yang jelek dirinya, apa sebaiknya aku menganti target yah.”gumamnya. (Yah Mimi, dibandingkan mimi, Lulu kalah cantik. Tapi aku bila berada dekat Sendi jantungku selalu berdebar-debar  apa mungkin ini yang namanya cinta) batinnya. “ Ah…. Sendi kayaknya tidak menyukaiku. Ucapannya ketus, “ merenung sejenak.”kok aku kepikiran yah. Aku harus mandi, abis itu kuliah. Kulian harus nomor satu. Yah nomor satu.”

Diperpustakan kampus Miady sedang berusaha melupakan kejadian semalem. Ia sangat serius membaca buku, membuat Yadi, Upik, Harianto dan melodi jadi merasa ada yang aneh. Lalu teringat ajakan kemaren.

“ Gimana acara ngedate semalem ?” Tanya yadi.

Miady pura-pura tak mendengar, ia terus saja membaca.

Yadi menoleh ke Upik, Upik lalu merebut buku yang sedang dibacanya. “ He …. Kuyuk baca apa ngelamun.” Buku itu diletakan diatas meja dan ditindis dengan telapak tanganya.

“ Biang rese yah. Lagi baca tahu. Ada apaan ? ada yang mau dibicarakan. Bicara saja.” Omel Miady.

Upik menoleh Yadi,

“ Acara semalem Sukses.” Kata yadi.

“ Oh itu. “ Miady mengambil buku, Upik melepaskannya.”Tidak ada yang istimewa.”

“ maksudmu…! Yang jelas dong kalau ngomong. Mendingan bacanya entar saja. Ceritakan dari awal hingga akhir.” Potong Melodi.

“ Yah, ternyata ajakan itu hanya untuk menonton temanya adu balapan motor di Stadion itu. Hanya itu saja.”

Yadi mengerakan kedua tanganya maksudnya apa tidak ada obrolan.

“ Yah ada ?”

“ Dengan siapa ? Sendi .” potong Harianto penasaran.

“ dasar kampret luh, pada diem kenapa. Dengerin saja. So terusin bapaknya kutu kumpret, “ ejek Upik bergurau.

Miady tersenyum. “Awalnya aku bicara dengan Lulu. Dia banyak cerita tentang teman-temannya. Lalu Sendi datang hanya menyapa. Aku akui, aku sempat curi-curi pandang tapi karena aku kepergok menatapnya, aku pura-pura menonton acara balapan itu dan keterusan. Dan ketika temannya kalah dalam balapan aku memberitahukan pada Sendi untuk menyampaikan pada temannya yang sedang balapan, cara agar bisa menang, akhirnya dia menang. Kami kenalan dan dia namanya frenklin, malam ini aku diajak makan-makan. Gak tahu dimana, katanya nanti dia menghubungi aku.”

“ kasihan. Dari dulu selalu begini. Basi, gak ada berubahnya yah.” Ceplos Upik.

“ Apa maksudmu bicara seperti itu, Ha …. aku tersingung.”

“ jadi mau apa ha….” Upik dan Miady berseitegang. Matanya sama-sama melotot.

“ Dasar moyet busuk.” Kutuk Miady.

“ Apa kamu bilang, “Upik memukul Miady dengan sangat keras dengan kepalan tangan kananya yang mendarat di lenganya kirinya.

“ Sudah sudah sudah  berhenti.” Teriak Yadi. “ Dasar kalian kaya anak kecil saja. Gitu aja marah. Malu. Kita ini sudah besar, bukan bayi lagi. Gak ngerti aku dengan cara berfikiran kalian.”

Melodi keluar menghindari semuanya. Sementara Harianto memagangi Upik.

“ Masalah kecil saja dibesar-besarin. Kamu juga pik, kalau mau ngejek lihat-lihat. Kita kan teman kalau becanda jangan kelewatan.”

“ Oh, jadi kamu belain Dia, Yadi.”

“ Aku tidak belain siapa-siapa ? tapi karena kamu memang yang salah, memulainya duluan. Menacing-mancing emosi. Sudah ayo salaman, baikan lagi.”

Upik menatap Miadi bengis kelaman menjadi haru. Miady yang memang tidak ada niat untuk cari gara-gara lebih dulu mengulurkan tangannya. Keduanya lalu bersalaman.

“ nah begitu. Damai itu indah,”kata Yadi.

Sementara itu dirumah Frenklin semuanya berkumpul. Rumah yang cukup megah, ada fasilitas kolam renang, taman dan lapangan yang asri. Semua berkumpul di pinggir kolam yang tersedia meja beratapkan pepohonan yang rimbun.

“ Jadi Sendi, kamu pernah balapan dengan Miady.” Frenklin merengut tak mengira.

“ Jadi kalian kenalan saat kebut-kebutan malam itu.” Sergah Roy.

“ Teknik itu, cukup teliti. Aku yakin dia bukan sekedar pengemar balapan motor. Aku saja yang telah bertahun-tahun nonton dari di TV sampai menyaksikan langsung tidak bisa memberikapan prediksi setepat itu. Dia pasti benar-benar memperhatikan dan mengahayati pertandingan. Atau kalaiu dia sendiri pernah ikut ajang itu.” Komentar Martinus.

“ Nah. Frenklin gimana kalau kita nanti ikut ajang Road race Nasional, PON kan sebentar lagi. Nah kita mesti berguru pada Miady.” Usul Eric.

“ Apa dia mau mengajarinya.” Sela Ricard.

“ Khan ada Lulu dan Sendi. Cowok pasti kelepek-kelepek deh.” Sambung Simon.”

“ Gimana say, “ kata Frenklin pada Sendi.

“ No Problem, aku akan berusaha. Kelihatannya sih dia naksir aku.” Kata Sendi.

“ Tapi Sen, sebaiknya kamu jangan beramain api, nanti kamu bisa terbakar loh.” Nasehat Lulu.

“Jangan kewatir Lu. Bisa diatur.” Sendi tersenyum memandangi teman-temannya.

“ Jatuh cinta baru nyesel.” Sumpah Lulu.

“kalau begitu Lu, kamu hubungi dia kita makan bareng di Kafe saja ditepian mahakam. Okey..” kata Frenklin.

Lulu lalu menghungi Miady.”Miady, kita nanti malam ke kafe di tepian. Kamu tahu kan kafe di depan kantor Gubernur. Iya. Okey jangan lupa yah nanti malam, kita tunggu, yu… walaikum salam. Beres !”

“ nah gimana kalau kita madian nih sekarang, mumpung kolam renangnya habis ganti air. Ayolah Sendi, Lulu. Biar seru.” Bujuk Roy.

“ mandi saja Sen, Lu, kali-kali, buat kita senang iya gak Frenklin.” Kata Eric.

“ Came On, “ Frenklin langsung buka baju dan menceburkan diri ke kolam disusul yang lainya.

Jam telah menujukan pukul 19.00, miady juga telah siap dengan dadanannya, dadanan berpegian kali ini sangat berbeda, dia terlihat rapi dan nechis. Karena itulah hatinya menjadi tidak tenang. Ia terlihat mondar-mandir di depan pintu rumahnya, seraya membetulkan bajunya.

“ Pantes gak yah, aku pakai baju seperti ini. Nanti diketawai gak yah. Aku yakin pasti mereka semua akan tertawa. Sebaiknya aku ganti yang biasa saja.” Pikirnya. “ Tapi kalau pakai yang biasa mereka akan tersinggung.” Gumamnya.

Setelah berfikir 30 menit akhirnya Miady berangkat dengan dadanan yang biasa, baju putih berkerah, dalaman hitam, celana panjang hitam, sendal Carwil. Gaul itu yang terlihat pada diri Miady saat ini.

Dari parkiran, Miady mengawasi kafe terbuka itu, tampak mereka tengah berkumpul di pojok menghadap tepian. Miady juga melihat seseorang yang tengah mengendap-endap diantara pepohonan yang ada di taman tepian itu yang buat kafe bila malam tiba itu. Tapi Miady tidak memperdulikannya. Dengan langkah pasti ia menuju arah mereka. Tetapi kecelakaan kecil terjadi seorang gadis yang sejak tadi mengintai, entah apa yang sedang diincarnya menabrak Miady yang sedang mengubur grogi.

“ maaf maaf , saya tidak melihatnya.” Hanya terbengon melihat Miady terjatuh tanpa memberikan pertolongan.

Miady bangkit, saat itu dirasakan kakinya keseleo. Kedua tangannya juga lecet. Bahkan miady hampir jatuh ketika berjalan, untung gadis itu segera memapahnya dan mndudukan di Pot taman yang berada didekatnya.

“ Biar saya tolong, “ ucap gadis itu sendu dan merasa bersalah sekali,apalagi tidak ada balasan kata-kata dari Miady. Miady menjadi kasihan, karena bagaimanapun juga gadis ini juga tidak salah seluruhnya.

“ Tidak apa-apa. Itu teman-teman saya,” tunjuknya, gadis itu langsung tambah gugup dan gemetar, Miady merasakan itu dari sentuhannya. “ tapi aku baru malam kemaren kok bertemannya, saya kesini hanya diundang makan, katanya sebagai ucapan terikasih, karena balapan kemaren aku membantunya.”

“ Namaku Maharani, Aku adiknya Sendi.”

“ Miady. Maaf, aku tadi melihatmu sembunyi memperhatikan mereka, gabung saja.”

“Apa kamu kenal dengan kakakku Sendi.”

“ Tidak terlalu, kan baru lusa kemaren malam kenalannya. Jadi saya belum akrab. Senang aku bisa kenalan dengan kamu.”

“ Aku juga. Tolong yah jangan kau beritahukan ke kakakku kalau aku ada disini.”maharani memasang muka sedu dan penuh belas kasihan.

Miady tersenyum melihatnya.” Maaf bukannya aku ikut campur, sebenarnya ada apa dengan kakakmu.” Tanya Miady menyelidik.

“ Kakakku, seorang pembalap, tapi dulu sewaktu dijakarta. Karena kecelakaan kakinya patah lalu sambung dengan Pen. Kata Dokter demi kesembuhannya agar kakakku untuk berhenti balapan. Karena alasan itulah Ayah dan Ibuku mengajukan pindah kerja ke Kaltim.”

“ Tunggu, aku tebak. Jadi kamu diminta yokap dan bokap untuk mengawasinya.”

Maharani menganguk

“ Memang aku kenalannya juga saat kebut-kebutan dijalan lusa kemaren.”

“ Kamu menang, “

“ Iya begitulah, emangnya kenapa,”

“ Kamu pasti akan menjadi sasaran empuk mereka, “

“ maksudmu mereka itu siapa,”

“ yah itu dia. Mereka adalah para pembalap amatiran, tetapi level mereka setingkat nasional. Sebab Abu pembalap Nasional Indonesia, mereka dulunya bersahabat dengan Martinus dan Roy. Karena perbedaan dia keluar dan bergabung dengan Frenklin anak pejabat disini.”

“ bagimana ceritanya kk mereka bisa bertemu dengan kakakmu ?”

“ justru kakakku yang mempelopori Frenklin, untuk bermain balap-balapan. Selanjutnya mendapat dukungan dari teman-temannya dan hingga sekarang. Beberapa ajang lomba balap doi kaltim banyak dimenanginya.”

“ Oh aku tahu. Pantas malam kemaren dia menatang Abu. Dan Aku lihat Abu begitu enteng melawannya, begitu kalah abu tidak emosi dia justru tertawa dan tersenyum seolah mengejek.”

“ Tidak ada seorangpun yang bisa mengalahkan Abu juara nasional.”

“ Tapi kemaren Franklin menang.”

“ Apa ada hubungannya dengan itu, kamu diundang kesini.”

“ Iya, aku membantu membuatnya menang,karena itu aku ditraktir makan  hari ini.”

“ Miady kamu harus hati-hati.”

Miady tersenyum melihat maharani.

“ Ada apa kamu melihatiku begitu.”

“ Sebelumnya aku belum pernah ngobrol dengan orang yang baru aku kenal sedekat ini. Apalagi seorang gadis secantik kamu. Sungguh…”

“ Apa ini adalah rayuanmu. Nanti pacarmu marah.”

Miady kembali tersenyum.”Lupakan, “ Miady berusaha berdiri, rasa sakit itu mulaih hilang.

“ Gara-gara aku kamu jadi begini. Maaf yah.”

“ Tapi ada baiknya juga. Aku jadi bisa kenalan dengan kamu. Boleh aku tahu nomor Hpmu ?”

“ Boleh 081112324,”

“ 085247029988.”

“ Kalau begitu boleh aku minta tolong ? jagakan kakakku.”

“ pasti, pasti “

“ Trimakasih, “

“ Jangan lupa hubungi aku,senang berkenalan dengamu.” Seru miady sembari melangkah tertitah menuju tujuannya.

“ Aku juga, “ teriaknya menjauh dari Miady.

“ hai, kok lama macet yah.” Sapa Lulu.” Kok kakimu pincang kenapa ?”

“ Tadi sewaktu keluar rumah jatuh dari tangga. Sedikit saja kok gak masalah.” Kata Miady.

“ Mba, pesan makanannya.” Teriak Frenklin memanggil. “pasti kamu gara-buru-buru kesini makanya kamu jatuh iya kan.”pikirnya.

“ Tidak kok, betul.”

“ Oh iya sambil menunggu makanan, gimana kalau kita ngobrol – ngobrol.” Usul Eric.

“ Ide bagus.” Sambut Miady.

“ Trus terang saya kagum dengan cara pikirmu Dy, kalau tidak ada kamu mungkin Frenklin sudah kalah.” Kata Simon mendahului.

“ Ah, tidak juga. Itu karena Frenklin sendiri. Bila yakin menang pasti akan menang. Itu kata nenekku, nenekku juga mengingatkan aku akan sebuah falsafah kuno jangan maju tika takut kalah, jangan sombong bila menang dan jujung sportifitas, karena itu inti dari kemenangan.” Kata Miady.

“ waow …aku tersannjung.” Kata Franklin.

“ Dy, masa ditempat kaya gini bawa-bawa nenek segala. Santai aja lagi,” gurai Lulu.

“ Saya ada permainan tebak-tebakan, pokoknya semuanya harus ikut,” kata Roy.

“ Ayo katakan tebakannya aku siap.” Kata Ricard.

“ Apa Inti dari sebuah kemengan atau kesuksesan ? tidak boleh sama pendapatnya yah, hayo mulai dari kamu Sen,?”

Sendi dengan telunjuknya ditepelkan kekeningnya, seolah sedang berfikir.” Aku tahu.  Tekad dan semangat,”

“ masih salah, Ricard ?”

“ Kemenangan, kesuksesan yang udah pasti kerja keras. Dengan bekerja keras orang akan sukses, kalaupun gagal-kegagalan itu adalah kesukssan yang tertunda iya kan.”

“ Kurang benar,  Mon ?”

“ Niat ..”

“ Sedikit tetap masih salah, Lulu ?”

“ Latihan Dong, tanpa latihan mustahil kita bisa menang.”

“ Em, mendekati…frenklin”

“ Impian ..”

“ hampir ….Eric ?”

“ Suport baik keluarga, teman atau  Sponsor.”

“ Kejauhan, Martinus ?”

“ pengorbanan”

“ Kurang lebih lah, Miady silahkan ?”

“ bagimana kita membawa diri untuk mencapai harapan.”

“ benar, tepat sekali itulah yang tertulis Harian Koran AFP Autralia ternama. Juga ditulis oleh ahli komunikasi Plil Astrid. Kau hebat Dy.”

“ Itu bukan kata-kataku. Itu kata nenekku.”

“ Okey, okey jangan bahas Lu, protes melulu, “ potong Roy.

“ Maaf, saya ingin meluruskan sedikit, ini masihtentang kesuksesan dan kemanangan.”

“ Silahkan Dy.”

“ Sebenarnya semuanya tidak salah, itu merupakan bagian daripada kesuksesan. Dalam hal ini adalah tahapan-tahapan menuju kesuksesan. Tanpa melalui itu juga mustahil bisa sukses.”

“ Ternyata kamu juga hebat Dy sastra.” Kata Franklin.

“ Ah tidak juga..”

“ Eit. Jangan bawa-bawa nenek kesini lagi yah.” Potong Lulu diselingi tawa semuanya.

Miady tersenyum dan tertawa bahagia, saat itulah curi-curi melirik Sendi yang berada dihadapannya. Frenklin, Roy dan Martinus mengawasinya.

“ Oh iya Dy, boleh aku minta tolong sama kamu ?” ungkap Frenklin agak serius.

“ Selama aku bisa aku akan membantu. Apa itu ?”

“ Aku minta kau mengajariku balapan, dengan memberikan terorinya saja, tetapi langsung praktek gimana. Kalau kau bersedia aku setiap malam dan yang lainya termasuk Sendi dan Lulu selalu disana.”

“ Waduh, itu bukan bidangku Frenklin, maaf. Aku kayaknya gak bisa, jangankan balapan. kebut-kebutan saja aku ngeri.”

“ Enggak kamu hanya memberikan masukan saja tentang pandanganmu. Input agar aku bisa menang, bukan mengajari balapan diatas motor. Mau yah Plis..”

“ Gimana yah, sebenarnya itu bukan bidangku.”

“ Dy, aku percaya kok kamu bisa membantu kami, “ Roy menepuk pundak Miady.

“ Istilahnya, kau adalah seorang penasehatnya,”sebut Eric.

“ Insya allah yah, tapi aku gak janji. Kalau ada waktu aku akan kesana, mungkin gak bisa sering-sering, mungkin dua minggu 2 kali setiap minggu malam.”

“ Tidak apa-apa kami bersedia.” Kata Frenklin.

“ Nah, makanan dateng tuh. Mba kok  lama banget…” kata Ricard sambil membantu menurukan makanan dari atas nampan besar.

Usai  makan, Eric dan Frenklin mendorong Sendi agar lebih aktif bicara dengan Miady dengan mengunakan bahasa isyarat.

“ Dy, besok siang kamu ada acara gak ?” seru Sendi agak ragu, dan terasa dipaksakan.

Tentu saja Miady terkejut dengan pertanyaan Sendi yang sejak malam kemaren ditunggu-tunggu. “Entahlah, soalnya jadwalnya kadang tak menentu.” Pancing Miady mengelak.

“ Besok kalau ada waktu aku mau minta kau menemiku jalan-jalan.”

Miady menatap Frenklin dan yang lainya. Mereka hanya menaikan alisnya, dan meminta Miady untuk menjawabnya. “ Emm, besok kalau ada waktu aku akan menghubungimu.”

“ Kalau begitu kau catat ini nomor teleponnya Dy. 0811555666,” sebut Simon.” Sudah ….”

“ Iya,” sejenak Miady memperhatikan cowok-cowok yang berada di kelilingnya, nalurinya mengatakan kalau saat ini ada sebuah rencana yang sedang mereka lakukan. (aku tahu ini sebuah rencana, akan kuikuti permainan kalian) bathinya.

Siang sekitar jam 2 sehabis pulang kampus, Miady bertandang dirumah Sendi, Ada perlakuan istimewa, dari makan siang hingga acara ngobrol bareng yokap dan bokap. Awal sempat neverous tetapi semakin lama pembicaraan semakin akrab.

“ Jadi kamu ada pertama dari tiga bersaudara,”

“ Iya Om. Saya belum lama tinggal disini. Paling sekitar puluhan tahun.”

“ Eh, itu lama. Om saja baru beberapa tahun ini. Kota Samarinda sebenarnya kaya apa sih, om biasa hanya jalan-jalan di Kota dan Moll. Selebihnya tidak tahu,”

“ Waduh Om, sebenarnya banyak tempat bangus. Apa om pernah KRUS, “

“ Apa itu KRUS ?” tanya Om.

“ Itu loh Om taman hiburan kebun raya Unmul kira-kira 5 Km dari kota. Juga ada wadug benaga. Wah tempat disana lebih pas untuk santai bareng keluarga. Dan Asiknya mancing Om.”

“ Kapan-kapan temanin Om mancing disana yah.”

“ Beres Om.”

“ Ternyata kamu enak diajak bicara yah Dy, “ pinta Ibu Sendi.

“ Gak juga Tante, sebenarnya saya juga grogi.”

“ Sendi, nah ini baru teman yang pas. Jangan kalian berantem yah, kalau ada masalah selesaikan dengan baik-baik diantara kalian.” Nasehatnya.

“ Ibu, bicarakan yang lain saja.” Sergah Sendi manja.

“ Jadi rencana sore ini mau jalan-jalan kemana ?” tanya Ayah Sendi.

“ Gak tahu Om, kemana saja yang penting happy.”

“ Oh, Om ingatkan hati-hati. Om lihat dikoran banyak kejadian-kejadian kriminal.”

“ Iya Om.”

Selesai makan Sendi yang telah rapi dan cantik dengan baju super ketatnya, dengan belahan dada yang lebar, membuat dada sedikit menyebul. Rok pendek, paha yang putih menambah semakin menawan kecantikannya. Saat akan pergi Maharani muncul dan terkejut melihat kakak bersama Miady dan pura-pura tidak mengenalnya.

“ Rani, sini.” Panggil Sendi.

“Iya kak.”

“ kenalkan Teman kakak, Miady.”

“ Miady, “

“ Maharani”keduanya bersalaman seolah-olah baru pertama kali kenalan. Maharani memperhatikan kaki kanan Miady. Dan berbisik.”Sudah sembuh”

Miady salah tingkah, kepala yang tidak gatal digaruknya. Ibu dan Ayah Sendi memperhatikan dari daun pintu. Setelah Sendi dan Miady hilang dari pandangan, Rani masuk melewati ayah dan ibunya.

“ Cocok yah kakakmu dengan Miady. Anaknya lucu dan baik. Kelihatan ia lugu tetapi terpelajar. Jujur lagi. Rani, kalau cari cowok seperti kakakmu.”

“ jangan senang dulu Mah, itu bukan cowok kak Sendi. Tapi kak sendi lagi mempermainkan coeok itu. Sebenarnya kak sendi itu suka dengan Franklin.”

“ Cowok berandalan itu yang suka kebut-kebuta.” Potong ayahnya.

“ Siapa lagi. Miady juga jado ngebut, balapan kayaknya. Tetapi tidak pernah digunakan dijalanan umum atau dipamerkan.”

“ Jadi kamu telah menyelidiki kakakmu sejauh itu,” seru ibunya.

“ Yah begitulah mah, “ Rani masuk kekamarnya.

“ Pah gimana ini. Ibu sudah terlanjur suka dengan pemuda itu.”

“ Jangankan mamah, papah juga suka.”

“Aku harap, ini bukan hanya sekdar permainan, tetapi nantinya anak kita menjadi jatuh cinta beneran.”

“ tapi papah yakin. Sendi pasti akan jatuh cinta dengan Miady.”

Begitu membuka pintu kamar, melempar tas kemudian merebahkan tubuhnya diranjang. Pikirannya masih tertuju pada Miady. “ kenapa perasaanku tadi cemburu yah. Padahalkan aku baru tadi malam bertemu. Apa ini yang namanya cinta.” (Ah tidak mungkin, cowok seperti miady yang dewasa, bisa jatuh cinta dengan anak SMA seperti aku. Mustahil, tapi terus terang aku selalu teringat senyumannya, bikin aku setengah mati) “ Miady …..oh…..”lamunnya. “Aku punya cara agar bisa deket, kakaku akan kujadikan alasan. Tapi akau harus cari waktu yang tepat,” Pikirnya.

Hari Demi hari, bulan demi bulan terus dilalui, kabarnya sekarang Sendi semakin dekat dengan Miady bak sedang pacaran. Kemampuan Frenklin pun telah menujukan peningkatan dan sekarang lebih lihai mengusai sirkuit. Rupanya latihan Frenklin dintai oleh teman-teman Abu. Setelah merekam setiap latihan, gabar itu lalu dibahas Abu.

“ Miady memang cukup pandai dalam mengalisa pertandingan. Hal sekecil apapun dapat diketahui, bahkan kelemahan lawan. Aku yakin jika Miady berada dipihak kita ajang bapalapan PON tahun ini akan menjadi kemenangan kita.” Abu memperhatikan setiap kata dan gambar frenklin.

“ Abu, lihat frenklin dalam setiap kecepatan ditikungan terus meningkat dari hari ke hari. Saat ini kecepatan ditikungan. 0.45 detik dari sebelumnya 3 menit. Ini kemajuan yang sangat luas biasa.” Sejenak memandang TV, kemudian memandang Abu.

“ Yoman, Teri apa pendapatmu.”

“ Abu kenapa kau tidak berikan apa yang diinginkan Roy dan martinus.” Bahasnya soal keluarnya mereka berdua dari TIM.

“ Dia meminta bayaran yang tinggi 50 juta setiap bertanding. Memang setiap balapan kita mendapat 300 juta. Itu kalau menang, sementara biaya perbaikan motor, operasional, makan kita,membeli suku cadang dan jatah makan selama setahun sereta biaya lain-lainya. Itu semua tidak cukup. Bisa kita semua kebagian 50 juta, tetapi siap saja untuk selalu kalah, karena mesin kita bobrog. Massa uang 5 juta tidak cukup.”

“ Sebenarnya waktu itu Roy dan Martinus sedang butuh uang. Sebelumnya ia cerita kalau keluarganya di kampung memerlukan uang itu karena sawah dan kebun didesa mengalami kekeringan dan gagal panen.”

“ kenapa dia tidak cerita dengan aku. Kalau ia minta untuk saat itu, pasti akan kuberikan uang itu. Akan kutunda membeli suku cadang dan memotong biaya –biaya lainya.” Kata Abu.

“ Semuanya sudah terlambat, biarlah. Yang penting kita masih berhubungan baik dengan mereka. Walau sekarang dia berada dipihak lawan.” Luruh Teri.

“ Aku juga tidak menyalahkanmu Abu, kau melakukan itu demi kita semua dan masa depan tim kita.”

“ Aku harus bicara dengan Roydan martinus, “ Abu berniat akan pergi.

“ Abu, tunggu. Kamu hanya akan sia-sia, membujuk mereka. Aku sudah bicara dengan mereka dulu. Ia mengatakan sudah kepalang tanggung berkata akan meninggalkan Tim ini, dia tidak bisa menarik perkataan. Setelah aku ceritakan hal yang sebenarnya.”

“ Jadi permintaan maaf itu, …”potong Abu teringat sewaktu perpisahan dengan Roy dan Martinus dalam Timnya.

“ Dia akan bangga jika kita bisa mempertahankan menjadi juara. Dia akan sedih jika tim kita banguan dari nol ini kalah. Apalagi dengan Tim yang ia baru bentuk.”

“ Roy dan martinus mengatakan seperti itu.”

Dedi menganguk,

“ baiklah mulai saat ini aku akan serius, Yoan Teri, aku minta kalian selalu mendukungku.” Abu memegang tangan keduanya,

“ pasti, aku tidak akan seperti Roy dan Martinus.”

Ditepian kembali mereka merayakan keberhasilan Frenklin yang dapat menempuh jarak 2 Km dalam 2,34 menit sirkuit 9 tikungan. Frenklin terlihat gembira dan bahagia malam ini.

“ Saya ucapkan terimakasih untuk Miady…” Frenklin berdiri  dan menyeprotkan minuman keras keatas.

“ mari kita tos, “ sambung  Eric.

Semuanya berdiri dan masing-masing mengangkat Botol, kecuali hanya Miady.

“ Ayolah Miady, jangan munafik kamu. Ayo kita pesta, ini adalah pesta untukmu Miady jadi ayolah kita bersenang-senang.” Teriak Frenklin.

Perlahan Miady mengangkat Botol miras itu dan tos bersama yang lain, tetapi miady tidak meminumnya.

“ Ayo minum, hanya malam ini saja.”bujuk Ricard. Dan memaksa untuk meminumnya dari botolnya.

Miady menutup mulutnya.” Kalian saja, aku tidak bisa minuman seperti ini.”

“ he, sudah jangan paksakan dia.” Pinta Sendi yang sudah mabuk kepayang. Sendi mendekati Miady jalannya sempoyongan ketika akan jatuh. Miady memapahnya.

“ Sendi kamu kebanyakan minum sebaiknya kita pulang saja,  Frenklin kalian teruskan saja aku akan mengantar Sendi Pulang. “

“ yah terserah kau saja, “ Tatap Frenklin penuh dengan nafsu melihat Sendi yang seksi dan baju yang ketat itu. Sebagai pelampiasan Frenklin memeluk Lulu dan menciumnya.

“ Kurang ajar kau franklin kenapa menciumku,  ha ..ha .. ha ..” kesalnya diselingi tawa.

“ kau suka kan, gimana kalau malam ini kita menginap dihotel . Kamu mau..”

“ Baiklah, ayo.. aku juga ingin bersenang-senang.”

“ Martinus, Roy, Ricard, Eric, kita kehotel 45, kalian jalan dulu aku akan membayar minuman ini dulu.” Pinta Franklin dengan tatapan menyimpan sejuta kelicikan.

Eric antara setengah sadar lalu mengendong Lulu dan membawa ke motor lalu  bersama yang lainya menuju Hotel yang dimaksud. Ketika Miady sampai didepan Rumah Sendi tiba-tiba dari arah belakang sebuah benda keras menghatam kepalanya hingga pingsan.

Ibu Sendi terkejut alang kepalang mendapati anaknya dan Miady sudah telanjang bulat dikamar. Miady terbangun dan terkejut mendapati dirinya telanjang dikamar di kamar Sendi. Dengan membabi buta Sendi memukul Miady karena keperawananya telah dinodai.

Diruang tamu mereka berdua dikumpulkan, Ibu Sendi terlihat masih sok melihat apa yang terjadi pada putrinya. Ia duduk disebelah suaminya, dan terus menagisi nasib.

“ Miady, kamu harus bertanggung jawab dan secepatnya orang tuamu untuk melamar. Aku tidak mau jika hal ini berlarut-larut akan menjadi aib.” Kata ayah Sendi.

“ Sebentar Om, saya masih tidak percaya dengan semua ini.”

“ Apa maksudmu ?” bentaknya.

“  Saya tidak melakukan apa-apa Om.”

“ sebentar,” Sejenak kedalam dan kembali dengan membawa spei dan selimut bekas darah dan sperma yang masih menepel.” Apa maksudmu dengan bukti-bukti ini. Om bisa saja melaporkan kamu ke polisi. Tapi Om tidak melakukannya. Om hanya minta agar kamu segera menikahinya.”

“ Om saya tidak ingat semuanya. Tunggu Om yang saya ingat hanya mengantarkan Sendi. Yah nengantarkan. Tetapi tiba-tiba didepan pagar ada seseorang memukul kepalaku dan sejak itu aku tidak ingat apa-apa lagi Om.”

“ Aku tidak percaya dengan omongamu, jadi kamu berusaha mengelak.” Ayah sendi menampar Miady hingga membekas di pipinya, darah segar juga mengucur dari mulut dan hidungnya.

“ baiklah Om, jika om maunya seperti itu aku akan menikahinya.”

“ Bagus, “

“ Pah, lagi membicarakan pernikahan yah. Mah, kok menangis, kakak,” sejenak Maharani menposisikan kondisi. Apalagi dilihat dari baju tidur yang spei yang masih bercak darah di dimeja semakin yakin bahwa telah terjadi sesuatu. “ Pah ada apa ini ?”

“ Rani Miady memperkosaku, “ kata Sendi.

Mendengar itu bagai petir yang mengelegar didekat telinganya. “ Aku tidak percaya, Miady melakukan itu semua.”bela rani.

“Rani sebaiknya kamu kembali kekamar ini urusan orang dewasa.”

“ tapi pah, “

“ Sudah cepat masuk, “

“ Tidak pah, Rani masih tidak mempercayaianya.”

“ Lihat bukti-bukti ini, apa masih belum cukup.” Kata yahnya keras.

“ Tidakkkkkk “ teriak rani tak kuasa mendengarnya dan berlari kekamarnya.

Dari rumah Sendi, Miady langsung kekampus, beberapa kali teman-temanya memanggil tetapi  tidak didengarnya. Upik menepuk pundak dari belakang, ketika miady menoleh air mata menetes.

“ Ada apa Miady, “ tanya harianto.

“ kamu tidak usah berbohong, selama beberapa hari ini aku selalu kerumahmu. Jadi aku tahu, kamu tidak ada masalah dengan keluargamu, apalagi urusan pacar semua baik-baik saja kan,” pinta Yadi.

Ahkhinya semuanya tidak mengikuti kuliah tetapi ngobrol di kantin. Miady menceritakan semua kejadian tadi malam.

“ Kok bisa, “ tanya yadi heran.

“ Aku yakin seyakinnya aku tidak melakukannya.”

“ Ada yang tidak beres ini, Miady sebaiknya kau tenang, biar ini menjadi urusanku. “ kata Upik menepuk dada.

“ Dy malam itu ada yang kamu curgai, “ tanya Yadi.

“ Aku tidak tahu, tetapi memang sewaktu aku meningalkan mereka. Dari sorotan mata Franklin terlihat aneh. Seperti ada niat jahat. Tapi waktu itu dia mabuk..”

“ Aku yakin ini pasti pura-puranya Franklin. Ini rencananya. Bangsat,,,,,” sumpah harianto.

Upik mengambil balok yang ada sekitarnya dan mengebrag meja, kontak semuanya pada terkejut.” Ayo kita cari Si Frangklin itu, kita gebugi dia sampai mati..” teriak Upik.

“ Upik, tenang dulu. Jangan kita bertindak gegabah. Kalau salah gimana, anak orang itu. Begini saja sebaiknya biar aku dan yang lainya menyelidiki kasus ini,  aku akan mencari tahu, Miady sebaiknya kamu pulang dan istirahat besok kamu ceritakan dengan keluargamu pelan-pelan. Malam besok aku akan kerumahmu membawa kabar okey.” Kaya Yadi menangkan.

“ baiklah. Trimakasih Yadi, Pik, Har, melodi kalian memangteman-temanku yang paling baik dan paling mengerti aku. Aku senang bisa bertemu dengan kalian.”

“ Miady kamu bisa kan pulang sendiri. Kalau gak biar aku gendong,” canda Upik. Walaupun lagi panic upik masih menyepatkan buat kekoyolan.

Miady tersenyum, lalu pergi.

“ Sekarang bagaimana ?” tanya Melodi.

“ Tidak mungkin kita menayakan langsung pada Franklin,” pikir Yadi.

“ nah Lulu gimana ?” sebut Harianto.

“ Yah Lulu, mungkin lulu ada kunci kita menemukan pelaku itu. Ayo kita kerumah lulu.” Kata Yadi.

“ Emangnya rumah lulu kalian tahu ?” Upik bengong.

“ dari tadi kemana ? Tidur luh, udah ikut saja.”kata harianto.

“ Perlu tidak bawa balok ini ?”tambah Upik.

Yadi menuju arah Upik merebut balok itu dan membuangnya lalu menariknya  keparkiran.  Sesampai dirumah Lulu, mere bertemu langsung ibu dan ayahnya.

“ Permisi tante, apa betul ini rumahnya Lulu, “ kata Yadi mewakili.

“ benar, ada apa yah, “ pinta Ibu lulu mempersilahkan duduk di kursi halaman.

“ Maaf tante bisa bicara sebentar dengan Lulu “ Yadi memasang muka sok kenal.

“ Itu dia, Lulu sampai sekarang belum pulang. Justru ibu lagi mencarinya,”

“ Sejak kapan itu tante,” tanya Harianto.

“ Yah sejak semalem. Memang gak biasanya Lulu nginep dirumah teman, semalam-malamnya pasti pulang kerumah. Kalaupun meninap biasanya dia memberitahukan orang rumah. Emangnya ada apa ?”

“ Tidak ada apa-apa tante.”

“ Ibu hubungi Hpnya juga gak aktif. Nanti kalai Lulu pulang akan sampaikan, apa ada pesan.”

“ Makasih Tante, kalau begitu kami permisi.” Pamit Yadi.

“ Maaf tante, ini nomor telepon saya, kalau ibu tidak keberatan, memberitahukan kepada kami jika lulu sudah kembali.” Melodi Memberikan kartu telepon. “ makasih tante, “

“ Iya, sama-sama,”

Selama seharian itu, Yadi, Upik, harianto, dan melodi mengikuti Franklin dan kawan-kawannya. Tetapi tidak ada yang mencurigakan, hingga malam tiba.

“ Gila nyamuknya disini gede-gede, “ Upik sibuk menepuki nyamuk.

“ ya pasti banyak, orang ini  selokan stadion.” Kata melodi.

“ Ngapain sih mesti ngumpet disini, kaya gak ada tempat lain saja.” Omel upik.

“ Hust…. “ bisik Yadi yang sedang mengawasi Franklin dan menguping pembicaraannya.

“ Ternyata Lulu masih perawan yah, “ bahas Eric.

“ Enak Franklin dapat keperawananya, kenapa tadi malam mesti nunggu franklin datang, coba kita garap saja gak mungkin Franklin bakalan tahu.” Kata Simon.

“ Sudah pulang apa belum yah Lulu dari hotel itu ?” pikir Ricard.

“ pasti sudah lah cad, “

“ Kalau sudah kenapa belum kesini yah, Sendi juga gak datang.” Kata Roy.

“ Mungkin lagi sakit kali,” potong martinus.

“ Franklin idola juga yah dihotel 45, dulu sering kesana Ric,“ tanya Roy.

“ Belum pernah. Baru kali ini, jangan-jangan hotel 45 punya ayahnya.” Sebut Eric.

Upik berada di kolong tak tahan dengan gigitan nyamuk sebesar tai hidung di pipinya. Sabetan tangan dipipinya berbunyi sangat nyaring, Ricard dan Roy sempat melongok kebalakang kursi yang gelap dan bau itu. Mencium baunya yang busuk mengurungkan niatnya.

“ kalian tadi dengar tadi sepeti ada orang menapar di bawah kolong situ, “ kata Ricad diyakan Roy.

“ Hantu kali, ..! Udah Ah jangan ngaco,” canda Eric.

Di selokan kolong kursi stadion tambah kebelingsatan dengan bau kentut Upik yang bau pete.

“ Gila yah kamu Pik, makan telok busuk kah. Uh bau sekali.” Celoteh harianto.

“ Husssss ..  jangan-keras-keras.” Kata yadi.

“ yadi Apa kamu gak ngerasa bau banget apa.” Melodi mengipas-ngipaskan tanganya didepan mukanya agar baunya segera pergi.

“ Ribut melulu. Kamu juga Pik, gak bisa apa ditahan sebentar, Ayo kita keluar dari sini,” yadi lebih dulu melangkah menusuri kolong itu dan keluar di pintu utara. Karena becek sepatu mereka jadi kotor.

“ Ha … leganya..” pelas Yadi.

“Tuh kan, diri sendiri juga gak tahan kan.” Bahas melodi.

“ Kalian tadi dengar kan, “

“ Suara kentut.. maksudmu Yadi,” sebut Harianto.

“ Becada melulu, serius donk, “

“ ya iya apaan aku gak ngerti “ kata Harianto sambil menutup hidung.

“ Mereka bilang malam tadi mereka ke hotel dengan Lulu, Hotel 45 ! yah Hotel 45 kalian tahu dimana ?”

“ yadi, itu kan hotel dekat tepian itu.” Sebut Upik.

“ Sekarang kita kesana yuk, “

“ Yadi, apa gak cuci kaki dulu bau nih,” teriak Melodi.

“ Nanti saja yuk cepetan, “

Sesampainya dihotel 45 mereka langsung menayakan kamar yang diboking semalem.

“ Rasanya gak ada semalem ada kamar diboking ?” kata Resepsionis wanita cantik setinggi 155 cm itu yang sedang memakai baju serba ungu.

“ Mba coba ingat-ingat lagi, ada satu, dua, tiga, empat, lima. Ada enam anak muda semalem makai kamar, salah satunya bernama frangklin.” Jelas Yadi.

“ Oh itu.”

“ Iya mba gimana ?”

“ Maaf  anda siapa ?”

“ Kok malah nanya. Saya temannya.” Potong Upik kesal.

“ kalau begitu anda ikut saya kekantor polisi ?” seru seorang petugas kepolisian dari belakang.

Harianto, Upik, Melodi danYadi jelas tersentak mendengar itu perlahan menoleh kebelakang, polisi bersegam didepanya.

“ Maaf pak, tunggu dulu, kami hanya bercanda. Sebenarnya kami sedang mencari cewek yang menginap semalem disini namanya Lulu. Soalnya ibunya sangat cemas. Kami harus membawanya pulang.”papar Yadi.

“ kalau begitu kebetulan sekali, mari ikut saya kekantor polisi.”

Tak berapa lama Hp melodi berbunyi. “ Sebentar, iya Bu, Sebenarnya sya sudah tahu. Iya Bu jadi Lulu sekarang masih ada dikantor polisi. Baik Bu. Saya akan kesana dan membawanya pulang, tidak usah Bu, ibu dirumah saja percayakan pada kami. Iya selamat malam.”

“ Siapa melodi ?” tanya Harianto.

“ Ibunya  Lulu, Dy ! katanya Lulu sekarang ada dikantor polisi. “

“ kalau begitu mari pak, saya akan ikut bapak ke kantor polisi.” Cetus Yadi.

Upik mencubit Yadi. Mulutnya ngerudem menolak kesana takut dipenjara.

“ tenang saja ada aku..” kata yadi pelan di telinga Upik.

Harianto, Upik, Melodi danYadi tak percaya melihat kondisi Lulu yang kacau bajunya compang-camping rambutnya acak-acakan, dan darah kering membekas dipahanya yang mulus.

“ Lulu ?” sapa melihat gadis yang tertunduk dikursi panjang yang berada dalam ruangan tertutup. Yadi, Harianto, Upik, Melodi mengambil tempat duduk berhadapan dengan Lulu.

“ kalian siapa ?” tanya Lulu.

“ Saya Yadi, teman Kampusnya Miady. Dan ini Upik, Harianto dan Melodi. Oh iya gimana ceritanya kok kamu bisa ada disini ?”

“ Semalem aku diperkosa teman-temanku sendiri saat aku anatara sadar dan tidak hingga aku pinsan. Tahu-tahu aku sadar ada disini. Banyak polisi”

“ jadi kamu juga diperkosa, “seru Upik, Harianto dan melodi bersamaan bernada terkejut.

“ Maksudmu apa aku juga diperkosa. Ayo katakan, bagimana Sendi…”

“ Itu dia mengapa aku mencari kamu sampai kesini. Sendi juga diperkosa dan teman kami Miady dituduh, karena memang kepergok bokapnya berdua lagi telanjang bulat dikamar. Jangan dipotong dulu, biarkan aku selesaikan ceritanya.” Kata Yadi melihat Lulu akan memotong pembicaraan.” Tapi dari pengakuan Miady, sewaktu mengantarkan pulang Sendi dan sampai didepan pagar, ada seseorang memukul kepalanya hingga pingsan dan tahu-tahu dia sedang dikamar sendi dalam keadaan telanjang. Atas kejadian itu Yokap dan Bokap Sendi berencana akanmengawinkan mereka berdua. Miady sih gak jadi soal menikahnya. Tetapi soal menodai kesucian Sendi ia tidak mengaku, karena memang dia tidak merasa melakukannya.”

“ Miady minta tolong kalian untuk mencari tahu ?” tebak Lulu.

“ Berikan pendapat soal Miady selama kamu kenal dia. Apa ia bisa tega melakukan itu pada Sendi ?” tanya Yadi.

“Walaupun aku belum lama kenal dengan miady. Tapi aku yakin miady tidak mungkin melakukan itu, agamanya kuat.”

“ Apa kamu ada mencurigai seseorang siapa yang melakukannya, ya barang kali temanmu juga  yang telah meperkosamu.” korek Harianto.

“ Martinus, Roy, Eric, Ricard, Simon memang keparat. Dia tega melakukan ini padaku. Tapi aku mencurigai Franlin. Soalnya dia yang paling lambat kembali ke hotel. Kalau tidak salah dengar ia baru kembali menjelang tengah malam. Berarti dia memiliki kesempatan memperkosa Sendi. Selain itu dia juga tahu jalan potong kerumah Sendi. Kalau Miady jelas tidak tahu, karena baru pertama kalinya kesana. Yah hanya Franklin dugaan kuat yang juga memperkosa aku.” Isak Lulu tak kuasa menahan amarah dan kehacuran hatinya saat ini.

Dua orang polisi masuk, ia adalah AKBP Wastu dan Hasan. “Saya tahu sekarang apa yang terjadi. Kalau begitu dia harus segera membuat laporan keberatan atas perlakukan mereka. Dengan begitu kami akan menangkap dan menjebloskannya ke penjara.” Pinta AKBP Wastu.

“ Soal teman kamu itu yang merasa tidak memperkosa ! kenapa tidak tes Urin atau DNA saja. Agar semuanya jelas. Saya setelah menagkap Franklin juga akan mengambil sampel Urinya.” Lanjut AKBP Hasan.

“ Benar juga. Baiklah Pak. Trimakasih.” Kata harianto.

“ Soal Lulu setelah membuat laporan dan tes kedokteran. Apa dia boleh pulang pak.” Tanya Yadi.

“ Pulang saja gak apa-apa. Asal saja setiap kami membutuhkannya ia harus datang setiap waktu.” Kata AKBP Wastu.

“ baik Pak Trimakasih.”

Lulu lalu dibawa Yadi dan teman-temanya kerumah sakit untuk dites dan diperiksa hasilnya langsung diserahkan kepihak polisian. Malam itu juga Polisi langsung memburu Franklin dan yang lainya. Tetapi Franklin karena anak pejabat ia tidak dipenjara  karena ada penjaminya.

Setelah mengantarkan Lulu kerumahnya dan bercerita ibunya sok tak kuasa mendengar kenyataan hidup ini. Dan derita yang ditanggung Lulu yang begitu besar, aib ini besok akan menjadi pemberitaan yang utama dimedia masa.

“ Bu, insya allah. Lulu tidak akan masuk koran. Sebab saya dan teman-teman telah mewanti-wanti hal ini sebelumnya.” Kata Yadi menangkan hatinya yang sedang dirundung musibah.

“ Bagimana ibu mengucapkan terimakasih dengan kalian, padahal kalian ibu tidak kenal tetapi mau menolong ibu.”

“ bapak kemana Bu ?” tanya Upik heran.

“ Tadi siang begitu kalian datang kesini, dia langsung terbang ke jakarta ada tugas yang harus diselesaikan dijakarta. Ayahnya pasti akan sangat sedih mendengar kabar ini.”

“ Sebaiknya ibu menceritakan secepatnya, agar ibu tidak memendan kesedihan ini sendiri.” Kata Harianto.

“ Kalau begitu kami permisi Bu, sudah malam. Biarkan saja dia bu tidak usah dibangunkan. Besok pagi saja mandinya.” Saran Yadi.

“ Iya Trimakasih yah..”

“ Sama-sama Bu..”

Malam semakin larut, mereka sangat pelan laju kendaraannya sambil terus membahas persoalan itu.

“ Yadi, ada tidak sebaiknya kita beritahukan malam ini juga pada miady.” Usul Upik.

“ jangan sebaiknya besok malam saja. Dia pasti cape. Jangan gangu dia. Pikirannya masih stres. Kamu mau jadi bahan pelampiasannya.” Yadi jadi menakutinya.

“ Meraka pasti sudah ditangkap malam ini.” Seloroh Harianto.

“ pastilah, polisi tidak akan membuang waktunya sia-sia. Paling tidak malam ini dan seterusnya mereka akan merasakan dinginya dipenjara.” Ketus melodi.

Karena hatinya galau dan tidak tenang Miady jalan-jalan ketepian mahakam untuk menangkan pikirannya. Sambil duduk-duduk dimedian sungai. Pikiranya menerawang kilaatan cahaya rembulan yang dipantulkan diatas air yang hijau. Sesekali ia terdengar menghelang nafas, berusaha untuk tegar dan menerima tadirnya.

“ Aku tidak melakukannya yah Allah…” kata Miady lirih.

“ Aku percaya kamu kok tidak melakukan itu pada kakakku, “

Miady mencari sumber suara dibelakangnya, ternyata maharani, matanya sayu dan terselimuti salju benning yang sewaktu-waktu membasahi pipinya yang mulus.

“ Kenapa kamu kesini ?” Tanya Miady kembali pada pandangannya semula pantulan caha rembulan diatas air, sambil sesekali meraih batu disekitarnya dan meleparnya ke tengah sungai.

“Seperti juga kamu. Aku juga tidak bisa tidur dengan tenang,”

“ Semua sudah terlambat, ibumu dan ayahmu telahmenentukan tanggal penikahannya.”

“ Miady sebenarnya aku mencintaimu sejak pertama kali aku bertemu disini,”

Miady terkejut mendengar pengakuan itu, dirinya juga sebenarnya tertarik denganya.

“ Aku juga sebenarnya mencintaimu, “

“ Apa !” kejut Maharani.

“ Seperti apa yang sudah aku katakan tadi semua telah terlambat.”

“ Tidak ada yang terlambat. Kita pergi dari sini dan pergi ke Kota lain.” Maharani mendekat ke Miady.

“ Aku tidak mau jadi manusia yang Egois Ran ! Aku suda diri kamu karena hal itu. Kau begitu dewasa dan sangat memperhatikan kakakmu. Sampai-sampai kau lupa akan dirimu juga memiliki aktifitas lainya yangjuga tidak akalah padatnya. Keloyalanmu itu yang membuat aku jatuh cinta.”

“ Apa kita akan pasrah dan tidak memperjuangkan cinta kita.”

“ maharani, toh semuanya sama saja. Aku tetap akanmenjadi bagian dalam keluargamu.”

“ tapi aku tidak bisa memilikimu sepenuhnya.”

Mendengar itu Miady menjadi semakin sakit hati dan kecewa pada dirinya sendiri. Ia berdiri dan melangkah pergi, baru lima langkah Miady berhenti mendengar pertanyaannya.

“ Tunggu Miady. Apa kamu akan bahagia jika hidup bersama orang yang tidak kamu cintai dalam hidupmu.”

“ Mungkin kau benar. Cinta memang membuat hidup kita bahagia dan hati kita tenang. Tetapi yang sekarang kita bicarakan adalah masalah kakakmu dan aku tidak akan membiarkan itu. Lagi pula ayah dan ibu tidak akan melepaskanku, kau tahu itu. Rani sudahlah lupakan saja aku.” Miady pun menghilang dikegelapan malam.

Pagi-pagi itu Harianto, Yadi, Upik dan melodi bertadang kerumah Lulu. Selain untukmengorek ketarangan ia juga ingin melihat keadaannya hari ini.

“ Selamar Siang Om, Tante, “sapanya barengan.

“ Ayo masuk, “ pinta ayahnya Lulu.

“ baru datang Om, “ basa-basi Yadi. Sambil menyelonong masuk keruang tamu.

“ Iya. Tadi malam, mendengar apa yang diceritakan istri saya. Saya langsung terbang ekpres. Saya sempat Sok mendengar berita itu. Untung ada kalian sehingga masalah ini dapat kami lalui dengan lega.” Pintanya. Ngobrol diruang tamu.

“ kalian mau minum apa ?” tawar Ibu Lulu.

“ Air mati saja tante.” Sebut Upik.

“ Tante ada buat Es jeruk coba yah, “ berlalu kedalam dan kembali dengan 5 gelas.

“ Om tidak menyangka, kejadian ini akan seburuk ini. Om kira Roy dan teman-temannya orang baik-baik. Dan sepengatahuanku Franklin teman Lulu itu adalah anak salah satu pejabat disini. Ia pasti lolos oleh jeratan hukum, kalaupun bukti memberatkan dia, dengan jaminan kekuasan ia pasti akan dibebaskan.”

“ Tapi mudah-mudahan apa yang Om katatan tidak benar.” Sambat Yadi.

Lulu yang habis berdadan setelah mandi mendengar ada tamu langsung menuju ruang tamu. Lulu duduk disebelah ibunya dan terlihat manja. Dia agak tenang setelah kabar tadi malam kalau mereka telah dijebloskan kedalam penjara.

“ Gimana Lu, sekarang kamu baikan kan, “ Harianto berupaya memberikan perhatian.

“ Kalian pasti mau tahu lebih dalam tentang Franklin dan teman-temannya kan, Ayo ngaku saja. Aku baik-baik saja kok. Lagi pula mereka sudah masuk dalam sel. Kalau mau tanya-tanya saja.”

“ maksudmu ada apa Lu ?” tanya ayahnya.

“ Malam itu juga Sendi juga diperkosa yah, tetapi permerkosaan itu dituduhkan ke Miady teman mereka. Katanya sih ibunya memergogiki miadi dan Sendi telanjang. Tetapi dari pengakuan Miady dia tidak melakukannya. Alasannya ada seseorang yang malam itu ada memukulnya dengan benda keras hingga pingsa dan ketika bangun sedang berduan diranjang Sendi.”

“ benar Om, dugaan sementara kami masih mengarah pada Franklin. Sebab dialah yang paling terakhir datang kehotel yang juga orang pertama …”

“ katakan saja. Dia orang pertama yang memperkosaku..” lulu terlihat sangat tengar, padahal dalam hatinya keropos.

“ Tetapi itu tidak cukup bukti untuk menuduhnya, kami mesti tahu hal lain dikehidupan franklin dan teman-temannya. Karena Lulu juga pernah bersama, saya kira sedikit banyak ia tahu sesuatu.” Papar Yadi.

“ memang Tim yang dibentuk baru beberapa tahun ini. Sungguh banyak kebetulan. Perkenalan aku Dengan Sendi, lalu bertemu dengan martinus dan Roy. Karena Hoby Sendi dan kemauan Roy dan martinus  mereka membentuk tim dengan melatih Sendi, lambat laun kami bertemu dengan Franklin di jalanan, kami kebut-kebutan. Dimulai dari sanalah perteman kita. Sejak itu kami membetuk Tim, karena Sendi sering sakit-sakitan dan mod-modan akhirnya ia hanya mau dari cadangan dan fokus melatih Franklin. Yah seperti kalian lihat, Franklin dapat kemajuan. Roy dan Martinus lalu mengusulkan menantang Abu. Juara Nasional PON tahun 1990. Pelu kalian ketahui Roy dan martinus dulu adalah Tim Nasional karena sesuatu perbedaan pandangan ia keluar dari Tim Abu. Kita tidak usah membahas itu, Abu akhirnya menerima tantangan kami. Dan secara kebetulan malam itu kami bertemu dengan Miady, kami kebut-kebutan dijalan ia mampu mampu mendahuli kami, kemudian malam berikutnya kami undang pas malam itu juga Pertandingan antara  Franlin dan abu. Mula-mula Franklin memimpin tetapi duputaran ke empat, ia kalah, rupanya sejak awal Abu mempermaikan Franklin. Miady tahu itu, dan saat putaran terakhir Miady memberitahukan sesuatu sehingga Franklin menang. Kemudian kami merayakan itu bersama Miady di tepian. Malam itu sebenarnya malam penuh dengan rencana. Roy dan Franklin serta Sendi membuat rencana untuk memanfaatkan Miady untuk melatih mereka dengan mengunakan Sendi menjadi alat pancingnya untuk pura-pura membalas cintanya. Hal itu dilakukan untuk persiapan Even PON di kaltim tahun ini. Padahal aku tahu Miady hanya ingin berteman.”

“ Maaf aku memotong, tetapi memangbenar Miady naksir dengan Sendi,” kata Yadi.

“ Rayuan itu berhasil, Akhirnya Miady melatih Franklin. Dan selama lima bulan ini terjadi peningkatan yang sangat dratis. Atas kesuksesan itu kemudian kamu merayakannya dengan bermabuk-mabukan. Tetapi miady tidak mau minum, Ia justru mengajak Sendi pulang kerumahnya. Sepeinggalnya mereka aku dan lainya mabuk sangat berat, sehingga tawaran mereka mengajak aku kehotel aku terima saja. Waktu itu pikiranku lagi kacau. Nah antara sadar atau tidak aku melihat Franklin kearah lain. Dan baru sekitar tengah malam baru kembali dan langsung memerkosaku. Dan akhirnya sekarang jadi begini.”

“ dari cerita Lulu, Yadi, Pik , melodi, apa kalian punya dugaan lain selain franklin dan menunggu Tes DNA ini nanti.”bahas Harianto.

“ Maaf Om ikut campur. Tapi menurut Om, Franklin dugaan Kuat sebagai tersangka. Tetapi juga jangan Lupa, Abu juga patut dicurigai.”

“ Alasannya apa Om ?” tanya Upik penasaran.

“ Massa kalian Lupa PON pekan Olahraga nasional yang akan diselegarakan dikaltim tahun ini. Abu tidak mau tersaingi, bisa juga mereka menjebak Franklin. Bisa saja kan. Agar Miady tidak bergabung dengan Franklin dan melatihnya. Jadi intinya ini karena perlobaan balap.” Urai Syah Lulu.

“ masih belum ngerti Om.” Kata Upik.

“ saya faham Om. Martinus dan Roy dulu ada Tim Abu, jadi mereka disusupkan Abu untuk mengacaukannya. Seperti itu kan Om.” Papar Yadi.

“ Kalian semua kurang mengerti. Aku jamin Martinus dan Roy tidak akan membelot untuk menghancurkan Franklin, soalnya dialah yang merintis dan membentuk ini sejak awal, tujuannya untuk menyangi Abu dan membuktikan bahwa Martinus dan Roy sangat penting di Tim.” Kata Lulu.

“ kalau begitu tetap dugaan kuat dan bukti-bukti mengarah pada Franklin dong.” Kata melodi.

“ Sebaiknya memang kalian harus meminta kepolisian dan kedokteran untuk ngetes Urian yang tercecer di kamar Sendi dengan urin Franklin di hotel.” Saran Ayah Lulu.

“ tapi Om. Sepertinya dari cerita Miady. Pihak keluarga Sendi tidak mau kabar ini sampai tersebar di media massa. Kata mereka ini adalah aib yang harus segera dibersihkan.”kata Yadi.

“ Biar Om bantu, kebetulan Om punya kenalan polisi yang sudah pensiun. Insya Allah Bisa bantu kalian.”

“ Trimaksih Om, jadi ngerepotin,” sela Upik.

“ kalian juga membantu putriku dan mengecohkan wartawan, kenapa om tidak membalas kebaikan kalian. Jadi kapan akan kerumah Sendi.” Tanya ayah Lulu.

“ Rencananya setelah dari sini Om, “ kata Yadi.

“ Rumah Sendi kan hanya beberapa puluh meter dari sini. Memang harus secepatnya sebelum barang bukti hilang. Kalian kesana saja bicarakan baik-baik, dalam sepeluh menit aku akan meminta Mujiono untuk kesana.”

“ jadi namanya pak Mujiono Om, “sebut Harianto.

“ Iyah, “

“ Kalau begitu, kita langsung kerumah Sendi Om. Lu Tante kami permisi,”

“ Kok belum diminum Es jeruknya ayo donk minusm dulu habiskan yah. Pamali,” pinta ibu Lulu.”

Dengan rasa haus itu, semuanya meminunya hingga habis tak bersisa Yadi lalu mewakili teman-temanya pamit.

Didepan rumah Sendi mereka berhenti rumahnya agak sepi, tetapi dilihat dari mobil yang terpakir dihalaman itu membuktikan kalau mereka ada didalam rumah.

“ Ayo masuk sekarang..” ajak Yadi. Semua enggan masuk.

“ Kayaknya tempatnya serem, dari cerita Miady saja sampai bikin bulu kuduku merinding.” Cetus Upik.

“ Dasar penakut Luh.” Ejek Harianto.

“ Hey. Kalau begitu kamu sana masuk duluan.” Upik mendorong Harianto.

“ Sudah jangan ribut, kita tunggu Pak Pujianto saja, nah kebetulan ada bakso lewat pagi-pagi.” Kata Melodi.

“ Dasar buta. Itu Mie aya, tahu. Huuuu..” Upik meninju kepala melodi tapi melodi sempat mengindar.

“ Bang, buatkan empat.” Sebut melodi.

“ Emangnya siapa yang mau banyarin ha.. kamu melodi. Aku gak punya duit, kalau makannya sih mau.” Kata Yadi.

“ Udah akuyang bayar, “ kata melodi.

Lalu semuanya dengan lahap menyantap makanan itu. Sambil terus mengawasi pintu rumah sendi. Begitu melihat laki-laki, Upik tidak meneruskanmakannya dan mengahampirinya.

“ Pak mujiono..” pinta Upik.

“ Iya. Kalian pasti yang  baru saja dari rumah Lulu.”

“ benar Pak.”

“ kok belum masuk.”

“ Itu die, dari pagi belon makan. Sebentar pak. Hoi…cepati pak mujiono nunggui nih.”

Akhirnya mereka semuanya tak bisa mengahabiskanmakananya.

“ Pak nih uangnya. Ambil saja kembaliannya pak.”

“ Makasih mas.” Sahut penjual Mienya.

Lalu semuanya masuk, ayah Sendi melihat kedatangan tamu begitu banyak menjadi curiga. Kalaukedatangan mereka tidak bermasud baik.

“ Sebaiknya kalian keluar tinggalkan tempat ini.” Usirnya.

“ Maaf pak. Kedatangan kami bermasuk baik, juga ingin memberikan kabattentang Lulu  kepada Sendi.” Bahas yadi.

“ tapi kenapa kalian bawa orangbanyak begini.”

“ Sebelumnya saya minta maaf, tetapi kami sekali lagi bermasud baik.”

“ kalau begitu silahkan masuk, “

Ibu Sendi yang mendengar keributan lalu keluar kamar, lalu melihat banyak orang bertamu“ Siapa mereka Pah.”

“ Papah sendiri gak ngerti, tetapi katanya mereka bermasud baik sekaligus ingin memberikan kabar untuk sendi. Mah panggil Sendi dikamarnya.”

Beberapa menit semua telah berkumpul diruang tamu.

“ begini Bu, Pak, kedatangan kami kesini hanya ingin menelusuri kejadian yang menimpa anak ibu Sendi. Saya sendiri Mahasiswa Stikom teman sekampusnya Miady. Miady telah cerita semuanya, dia mengaku ..”

“ Jadi kalian kesini hanya untuk itu, aku pokoknya tidak perduli pokoknya Miady harus bertangung jawab.” Potongnya.

Pak pujiono sebak akan berdiri untuk memisahkan mereka.

“ Tunggu sebentar pak, tolong dengarkan kami bicara dan menerangkan lebih dulu, setelah itu silahkan bapak bicara apa saja.” Kata yadi.

“ pah, sebaiknya kita memang dengarin dulu.” Nasehat istrinya. Sendi hanya duduk manis disebelah ibunya.

“ Tetapi tenang Miady akan tetap menikahi anak bapak. Hanya saja ada sedikit ganjalan, soalnya dia mengaku tidak melakukan apa-apa dengan sendi malam itu. Seperti yang sudah diceritakannya Miady, kalau malam itu dirinya dipukul oleh seseorang dari arah belakang hingga pingsan. Kami telah menelusurinya, dan dugaan serta bukti mengarah ke Franklin.”

“ Tidak mungkin Franklin melakukannya. Malam itu hanya ada Aku dan Miady yang mengatarkan aku pulang. Sementara Franlin dan yang lainya masih dicafe ditepian mahakam.” Bela Sendi.

“ Saya sampai lupa menyapaikan hal yang paling penting Untuk kamu Sendi. Kabarnya Franklin dan teman-temannya sejak malam tadi telah meringkuk dalam sel tahanan polisi.”

“ kenapa ?”potong Sendi. Ibunya menarik tanganya agar mendengarkan lebih dahulu.

“ Sewaktu Miady mengatar kamu pulang, Franklin dan teman-temannya membawa Lulu ke Hotel 45. dan mereka memperkosanya rame-rame. Aku telah bertemu dengan Lulu sejak tadi malam, bahkan aku dan lainya meneminya dalam pemeriksaan Tim medis dan membuat laporan pemerkosaan itu. Dan pagi ini sebelum kesini aku dari rumah Lulu. Dari pengakuan Lulu, malam itu Franklin paling telat datang kehotel sekitar tengah malam. Sementara yang lainya menunggu. Franklinlah juga yang pertama kali mengarap Lulu. Dugaan aku dan Lulu sama Franklin jualah yang telah memperkosa Kamu Sendi. Kalu boleh tahu sekitar jam berapa kamu pulang malam itu.” Tanya Yadi.

“ Jam sepuluh malam. Memang sangat cepat kejadian itu. Aku merasakan ada seseorang yang menindihku, tiba-tiba selangkanganku sakit dan ketika bangun pangi aku melihat Miady ada dikamarku. Jadi menurutmu ini jebakan Franklin.”

“ Entahlah, aku sendi masih belum yakin, tetapi bukti semua mengarah pada Franklin hanya ada satu pembuktian lagi yang belum aku coba dan ini adalah penentu.”

“ tapi aku yakin, aku sangat mengal Franlin tidak mungkin melakukan itu. Jika mau ia tinggal meniduri pelacur dihotel.”

“ Tapi kenyataannya Lulu menjadi korbannya. Lulu saja bisa diperkosa kenapa kamu tidak ?” ceplos Upik.

“ Apa maksud penbuktian penentu itu ?” kata Ibu Sendi dimangut-manguti Suaminya.

“ Dengan Tes Urin dan ceceran sperma itu. Ini akan membuktikan yang sebenarnya. Siapa yang telah melakukan pemerkosaan terhadapmu Sen,. Apakah kamu berani menerima kenyataan ini. Perlu kami ketahui selain Franklin dan eman-temannya kita tes Urine dan Sperma juga Miady. Jadi jelas milik siapa seperma yang menepel di Sprei itu.” Papar Yadi.

“ Aku setuju, Tapi aku tidak mau hingga kabarini tercium oleh Pers. Mau ditaruh dimana mukaku ini. “

“ Tenang Om karena itu saya membawa teman ayah Lulu, ini adalah pak Mujiono  pensiunan polisi, dia yang akan membantu kita.”

“ baiklah, Mah ambilkan kain srei itu.” Ibunya lalu bergegas mengambil beberapa saat kembali dengan sprei dan noda darah.

“ Tenang pak saya akan membantu masalah ini cepat selesai. Paling lama malam ini hasil itu akan keluar, jika semuanya telah menjalani tes.”

“ Kalau begitu pak kami permisi, jika kami telah mendapat informasi dari rumah sakit kami akan langsung kesini, atau palinglambat besok pagi.” Kata yadi.

“ baik aku tunggu kabarnya.” Sahut ayah Sendi.

Didepen rumah Sendi semuanya akhirnya membagi tugas, Mujiono yang mengarahkan.

“ karena waktunya mendesak begini saja agar cepat selesai.”

“ Gimana pak mujiono ?” tanya yadi.

“ Aku akan langsung ke kantor polisi untuk membawa mereka tes itu. Soal tes miady.” Pujiono mengeluarkankartu nama.” Kalian temui dokter praktek Pratiwi di rumah sakit umum. Kita akan bertemu disana. Giamana ?” kata Pujiono/

“ beres Pak. Trimakasih mau membantu.” Sela harianto.

“ Tidak ap-apa ? sebenarnya saya kerja dengan ayah Lulu sebagai penjaga Gudang. Lupakanlah, kita selesaikan kasus ini,”

“ Baik pak, “ ucapnya serentak.

Maharani terlihat gelisa disekolahnya, Sejaktadi mondar, mandir di depan kelas, kya setrika bumi. Tita Dewi dan Ferawati heran melihatnya tak biasanya itu.

“ Ada apa sih Ran ?” tanya Dewi.

“ Iya Ran, biasanya kamu sering bolos.” Tambah Ferawati.

“ cerita Donk, kekita-kita ada apa. Siapa tahu kita bisa bantu.” Kata Tita.

Rani berhenti dan menatap teman-temannya. Duduk diatas meja menghadap teman-temannya. “ Aku baru tahu, kalau Miady  ternyata suka dengan aku.”

“ Apa !”kejut Tita, Dewi dan Ferawati.

“ Bagus donk, jadi kapan jaidiannya.” Tanya Ferawati lagi.

“ tapi Kok kamu sedih Ran, bukanya seneng. Itu kan yang kamu mau.”sela Dewi.

“ Gimana gue seneng, sebentar lagi dia akanmenjadi kakak iparku.”

“ Supe loh …kok Bisa.” Tita jadi heran dan tak mengerti.

“ Tadi malam aku bertemu dengan Miady ditempat dulu pertama kali bertemu, dia bilang kalau dia sebenarnya mencintaiku. Tetapi nasib mempermainkan kita, “ jelas rani.

“ maksudmu nasib mempermainkanmu itu seperti apa ?” tanya Dewi.

“ Ini masalah keluargaku. Aku tidak mungkin menceritakan kepada kalian.” Tandas Rani.

Ferawati menyentuh pundak Rani.” Apapun yang terjadi dikeluarga luh. Aku bakal tutup mulut, iya kan Tita, Dewi. Asal bikin luh lega, plong. Percayahlah aku hanya ingin membantumu.”

“ Ayah dan ibuku menuduh Miady memperkosa kakakku, karena memergokinya dikamar berdua tanpa baju sehelaipun.”

“ Waou, …”

“ Lalu, ..” Dewi celingukan mengecek kakau dikelas tidak ada seorangpun yang sedang menguping.

“ Ayah dan ibuku akan secepatnya mengawinkan mereka berdua.”

“ Rani, tabah yah…. Nasibmu memang lagi buntu.” Tita dan Fera memeluknya prihatin.

“ kamu percaya Miady yang melakukan itu ?” tanya Dewi.

“ Aku tidak percaya. Miady juga bilang dengaku akalau dia tidak melakukannya. Katanya ada seseorang yang memukulnya dari belakang hinga membuatnya pinsan setelah sampai dipintu pagar rumahku, “

“ kamu percaya ?” sela Ferawati.

“ Aku percaya, sorotan mata Miady itu lain, dia tidak bisa berbohong.” Bela rani.

“ Setelah kamu tahu semuanya. Apa kamu akan menyerah berhenti sampai disini.” Kata Tita semangat.

“ maksudmu tit, “

“ kenapa kamu tidak selidiki saja, misalnya yang paling nyata Tes Urine dan DNA, atau sperma yang tercecer di kamar.” Kata Tita.

“ Kau benar.” Tetapi beberapa saat kemudian ia teringat. Sprei itu telah diletakan tempat pencucian.

“ kenapa terus sedih.” Kata Dewi.

“ Sprei itu tadi aku lihat ada ditepat cucian mungkin sekrang sudah dicuci.”

“ Rani, coba saja. Kamu harus bisa membuktikannya. Hanya ini satu-satunya cara agar kamu bisa bersama orang yang kamu cintai itu.” Dewi memberikan semangat.

“ kau benar, “ Rani langsung menuju bangkunya dan mengambil tas. “ kabur lewat nih, sebentar lagi masukan.”

“ dari jendela saja asal kamu hati-hati gak bakalan ketahuan.” Saran Tita.

Rani begitu sampai dirumah langsung menuju bak cucian, ibunya terkejut melihat anaknya lagi ngubek-ngubek pakaiankotor.

“ rani kamu sudah pulang ?” suara ibunya mengejutkan.

“ Iya bu, tadi ada rapat jadi dipulangkan.”

“ kamu lagi cariin apa Ran ?” tanya ibunya.

“ Sprei kakak yang terkena noda darah Bu, “

“ untuk apa ?”

Rani terdiam lalu berbalik dan memeluk ibunya. “ Maafkan aku Bu, atapi aku sangat mencintai Miady Bu, aku sayang banget. Aku tidak mau kehilangan dia Bu, saat aku mendengar permerkosaan itu. Hati rani sakittttttt  sekali.”

“ Sekarang Ibu mengerti, kamu mau tes ceceran darah itu untuk membuktikan apakan milik Miady atau bukan.”

“ Iya bu, maafkan rani.” Perlahan rani melespakan pelukan ibunya. Keduanya saling tatap.

Dimata Anaknya ia melihat air mata yang tulus, dialiran darahnya ada cinta, kembali memeluk anaknya. “Tenanglah Ran, semuanya pastiakan baik-baik saja.”

Rani melepaskan pelukan. Dan ibunya membawanya ke meja makan yangtak jauh dari tempat cucian pakaian.

“ Kira-kira baru sejam lalu, teman-teman Miady datang berama polisi pensiunan membawanya. Tujuanya sama seperti kamu ingin memastikan apa benar itu seperma milik Miady atau bukan. Teman-teman Miady telah menyelidiki sejak kejadian malam itu. Malam ini paling lambat laporan tes itu ada hasilnya, kita tunggu saja. Ibu berharap memang Miady jadi menantu ibu yang bisa dibanggakan.”

“ Ibu….” Rani meremas jemari ibunya haru. “ Siapa dugaan 6yang melakukan permerkosaan kak Sendi Bu, “

“ Bukti-bukti mereka mengarah pada Franklin, soalnya malam itu juga Franklin dan teman-temannya juga memperkisa Lulu temankakakmu itu yang tinggal dujung jalan ini.”

“ Apa ! benar-benar bejat mereka. Rani sudah curiga sebelumnya pasti akan terjadi hal seperti ini. Jadi semuanya nanti akan di Tes Bu,”

“ Iya, berdoa Nak, semoga nanti hasilnya baik untuk kita semua. Dan menemukan pelaku yang sebenarnya dan harus mempertangung jawabkannya.

Hari itu, polisi terlihat sibuk adanya bantuan mujiono yang merupakan pensiunan polisi yang dulu pernah menjabat sebagai kepala resor.  Termasuk memanggil Franklin yang tidak dipenjara untuk menjalani tes urie di Rumah sakit Umum. Siang itu juga ditemani dengan Kanit Reskrim menuju rumah sakit. Tidak begitulama di rumah sakit, sebelum bada Dhuhur para tersangka sudah kembali dalam sel. Sementara Franklin bebas berkeliaran.

Di Ruangan Dokter Pratiwi yang tidak terlalu lebar Mujiono bertemu dengan yadi, Upik, Harianto, Melodi dan Miady.

“ Bu pratiwi ini laporan tes yang saya bilang tadi ditelepon. Hei sudah lama disini,” sapanya.

“ Lumayan pak, “ sahut yadi.

“ begini pak, berkas ini akan kami teliti dilab, paling tidak sore ini baru bisa ada hasilnya .”  katanya.

“ Oh iya, nanti buat dua berkas yah. Untuk mereka dan untuk polisi, ini nomor teleponnya, sebenarnya tadi dia masu kesini tetapi kelihatannya sibuk jadi kembali bersama tersangka takut kabur.”

“ baik pak, “

“ Trimakasih banyak pak Mujiono,  bapak mau membantu saya. Bu kalau begitu kami permisi.”

“ Sekalian bu saya juga permisi,”

“ Tanpa bapak mungkin masalah ini tidak akan cepat selesai,” puji Yadi.

“ Tidak apa-apa. Oh iya aku telah menceritakan semua dengan Bagian Kanit Reskrim apa yang sedang terjadi, karena itu tadisaya minta dua berkas. Bila kalaian ingin mengajukan keberatan tentunya melaporkan dengan koban akan ditangani secepatnya.”

“ waduh sekalilagi trimkasih pak.”

“ kalau begitu saya harus kembali kerja.”

“ Baik pak Trimakasih pak.” Semuanya berjabat tangan sebelum akhirnya berpisah.

Mereka semua memandangi kepergian Mujiono, hingga hilang dari pandangan mereka.

“ Sekarang kita kemana asyiknya. Miady Gembira donk, kan semuanya sudah beres,?” kata Harianto.

“ Beres Gudulmu itu, “ ejek Upik.

“ Pik, emang luh kalau ngomongselalu gak ngenakin ati,” ketus Harianto.

“ Kita kerumah Miady saja, sambil menunggu sore, baru kita kembali dan langsung kerumah Sendi. Miady kamu mau Ikut nanti malam.” Tanya Yadi.

“ Iya, sekalian aku harus menjelaskan sesuatu yang penting,” seru Miady.

“ nah Gitu donk, senyum..” kata Melodi.

Waktu berjalan begitu cepat, setelah mengambil hasil, jelang malam mereka kerumah Lulu, lalu bersama-sama kerumah Sendi untuk membuka sama-sama hasil tes itu. Semua yang ada diruangan itu jantungnya berdetak sangat kencang, apalagi Maharani yang sejah tadi terus memandangi Miady.

“ Sebaiknya Om, dan tante yang membukanya.” Yadi menyerahkan secarik kertas.

Ibu Sendi mengambil dan membukanya, sejenak semua mata memandang ke raut wajah Ibu Sendi yang mendung-terang .

“ bagimana Bu, “ tanya Sendi.

Maharani mengintip sambil sesekali mencuri pandang miady.

“ Apa ! Franklin “ seru Sendi menetskan air mata yang sejak tadi dibendungnya.

“ Aku sudah menduganya, “ luruh Lulu mengerutkan alisnya prihatin.

“ Lu, ….nasib kita…” Sendi memeluk Lulu meratapi nasib.

“ bangsat, jadi bocah itu yang telah memperkosa, baik akan kulani mereka.” Teriak ayah Sendi.

“ Tang Om, tante, semua akan berjalan dengan baik. Sebenarnya berkas ini ada dua. Mungkin polisi saat ini sedang menuju kesini dengan membawa Franklin dan keluarganya. Untuk diselesaikan kekeluargaan atau Hukum.” Kata yadi.

Tak berapa lama pintu rumah terketuk.

“ nah mungkin itu dia, Biar aku saja yang membukakannya.” Upik menawarkan bantuan.

Dan memang benar beberapa polisi dan keluarga Franklin. Dan langsung mendapat cercaan ayah Sendi.

“ Dasar kamu bajingan, apa kamu sudah tidak waras.”

“ Tunggu Pak. Bapak jangan ngomong sembrang kepada anak saya. Bapak belum tahu siapa saya,” sahut ayah Faranklin.

“ saya tahu bapak adalah seorang pejabat disini, tetapi aku tidak takut, “

“ tenang pak, kami kumpulkan disini untuk mneyelasaikan masalah bukan untuk membuat masalah.” Kata seorang polisi. “ Silahkan bicarakan secara kekeluarganya kamu akanmenjadi penangah.” Ujarnya.

“ Saya Tidak mau menikahi Dia pah, saya tidak melakukannya. Jika Lulu memangsaya melakukannya pah.”

“ Diam..” ayahnya menamparnya. “Jadi gimana pak.” Tanya ayah Franklin.

“ Saya mengalah Sen, biarkan Martinus, Roy, Eric, Ricard dan Somin yang bertanggung jawab, Jika ini masalah kehormatan menikahlah dengan dia Sen. Aku akanenutup kasus untuk Franklin.” Kata Lulu sendu, semua yangada diruangan itu terdiam mendengarkan.

“ Kalau begitu kapan tanggal pernikahannya ?” seru ayah Sendi. Setelahmendapat sinyal dari sendi yang memeluk tangannya.

“ Baik, kalau begitu bagaimana besok.”

“ Pah, saya tidak memperkosanya.”

“ lalu apa ini ..” ayahnya menujukanhasiltes laboratorium.  Apa ini akan memboginya.”

“ Baiklah pah, Sendi aku akan maumenikah dengamu, tetapi selesai acara balapan motor ini. Acaranya kan dua minggu lagi, saya rasa itu tidak apa-apa kan.”

“ baiklah, lagipula saya harus mnyusun acara dan membuat kartu undangan.” Kata Ayah Sendi.

“ sayah serahkan usurusan resepsi itu kepada bapak saya akan membantu dengan dana saja.”

“ baik aku setuju,” keduanya bersalaman.

“ kalau begitu kami permisi, “Franklin dan keluarganya pamit. Tak berapa lama polisi – polisi itu juga pergi.

“ Miady Om minta maaf sekali, telah menuduh kamu berbuat yang tidak-tidak.”

“ Tidak apa-apa Om. Saya juga ingin mengatakan sesuatu kepada Om dan tante, “

“ tante tahu apa yang akan kamu katakan. Ibu merestui hubungan kalian. Dan ibu hanya memberikan sara jangan lama-lama selesai Rani ujian SMA sebaiknya kalian menikah bila ada kecocokan.” Kata ibu Sendi.

“ Benar Om, tante, saya memang mencintai Rani sejak pertama kali betemu di tepian itu.”

“ Om senang, tapi awas jangan macem-macem yah.” Muka sangar ayah Sendi mengkoyol.

Semua tersenyum melihat Miady, termasuk Lulu, Sendi dam yanglainya yang ada diruangan ini. Rani terlihat tersipu malu dan berlari kekamarnya.

“ Tunggu Dulu, “ Yadi mengejutkan semuanya. Yang tadinya happy, kembali menegang lagi.

“ Ada apa sih yad, “ tanya Upik.” Korep api luh ketinggalan.”

“ Aku lagi berfikir, tentang ucapan Franklin barusan. Aku yakin dia jjur mengatakannya.”

“ maksudmu apa, Om sekarang sudah puas dengan kerja kalian. Jadi semua sudah beres.”  Kata ayah Sendi.

“ Iya Yad, bikin kaget saja,” kata Harianto.

“ Tapi ada yang aneh, Franklin mengaku memperkosa Lulu, tetapi tidak mengaku memperkosa Sendi. Apa itu bukan aneh. Kenapa dia memang bener tidak mengaku keduanya. Coba kalian pikir, “pikir yadi begitu serius.

“ Apa bukti ini  belum cukup, belum kuat, “ kata ayah Sendi.

“ Sudahlah Yad, jangan dibesar-besarin toh semuanya sudah mendapat ganjarannya masing-masing.” Kata melodi.

“ Iya, lagian kalaupun bukan Franklin kamu mau tuduh siapa lagi.” Tanya Miady.

“ Saya curiga dengan Abu, “

“ Abu sepengetahuan saya tertutup dia tidak mungkinmlakukannya, kalaupun ini masalah petandingan balapan itu. Sebenanya Abu lebih hebat dari Franklin.” Kata Sendi.

“ bagaimana ? kalau Abu tahu perkembangan terakhir Franklin.” Tanya Yadi lagi.

“ Maksudmu ia pasti akanketar-ketir gitu, “sela Lulu.

“ Enggak, Maksudku pasti ia akan berusaha memisahkan Miady dan Franklin, karena ia tahu kemajuan itu berkat Miady. Ia tahu dalam pertandingan ini ia pasti akan kalah.”

“ bener juga,  tapi apa itu mungkin. Hal itu dilakukan oleh orang yangpernahJuara nasional.” Ketus Upik sembarangan ngomong.

“ nah justru itu dia, karena dia juara nasional dia tidak mau dikalahkan siapaun.”

“ Termasuk dari Franklin.” Kata melodi.

“ betul.”

“ Sudahlah lupakan. Kepalaku jadi Pusing.” Kata Sendi.

“ Sudah malam ini Om, Tante kalau begitu kami permisi “ pamit miady, matanya sesekali melirik kedalam.

“ Duile yang baru jadian, …” goda Upik seraya pergi.

Sejak itu selama beberapa minggu ini keadaan menjadi sepi dan senyap, Sendi dan Franklin bila bertemu seolah orang yang baru kenal saja. Sementara Miady dan rani hubungannya semakin baik setiap malam minggu meraka memadu kasih ditepian kenangan itu.

“ Sayang, hari ini aku bahagia banget, aku bisa peluk kamu, cium kamu, tepian ini akan menjadi saksi bisu cinta kita.”

“ Miady Sayang, aku juga bahagia banget aku akhirnya bisa memilikimu sepenuhnya. Kamu tahu gak. Ketika kamu akan dkawinkan dengan kakakku,  aku terus mencari bukti kalau kamu bukan pelakukanya sampe aku bolos sekolah. Tapi mendengar ibu cerita kalau sudah akan teman-teman sayang yang menyelidiki dan membokarnya aku bahagia banget. Apalagi dengan hasil tes itu, bahagiannya hatiku tak terkira.” Rani mencium pipi Miady.

“ Yang, kita jalan kesana yuk, tetapi diatas median ini.”ajak Miady melangkah diatas pinggiran sungai.

“ Aku takut, “ kata Rani manja.

“ Kan ada aku, ayo sini.”

Saat itu Mimi melihat Miady dan laangsung mengahampirinya. “ Hai, lagi ngapain nih !” sapanya.

Miady dan rani menoleh kearah suaranya, Miady sempat terkejut, tetapi ditepisnya.

“ Apa kabar ?” sapa Miady. “ Ini Ran, Mimi akukenal dari teman-teman.”

“ Maharani, “ mukanya agak sini dipasangnya.

“ rani boleh aku bicara sebentar dengan Miady. Lima menit saja.” Rayu Mimi.

“ Boleh, “

“ Tunggu sebentar yah sayang, gak lama kok.” Miady lalu menjauh dari Rani. “ Ada apa ?”

“ Ternyata kamu sering mabuk yah dan gonta-ganti pasangan. Hebat kamu.”

“ Hanya untuk membicarakan ini. Aku kira kamu akan bicara penting, “

“ He, kapan-kapan ajak aku donk jalan-jalan.”

“ Kamu bicara apa ?” Miady mendekat.” Jangan asal bicara kamu yah.” Miady lalu meninggalkannya.

“ Jangan Sok suci kamu. Aku tahu malam itu kamu mabuk kan sama teman cewekmu yang lain. Sehingga temanmu yang mengatanrkan pulang. Sampai pingsan segala lagi.”

Mendengar itu Miady terkejut, ia ingat sekarang malam itu adalahmalam saat dia dipukul benda keras dari belakang. “ Mimi, tunggu kapan itu kejadiannya “

“ Aku lupa ! yang pasti kalau tidak salah ingat dua minggu yang lalu, “

“ Apa kamu mengenali wajah orang itu “

“ Agak gelap sih, dan dia selalu menghindar kalau aku melihat wajahnya. Tetapi jika aku bertemu dengan dia sekali lagi aku pasti tahu apalagi suaranya. Waktu itu aku habis dari rumah teman ada acara ulang tahun dan kebetulan lewat sana. Kasihan cewekitu telihat teler.”

“ Mimi, bisa besok kau temui aku di lapangan Stadion Sepanja jam 09.00 pagi. Aku nunggu kamu dipos depan.”

“ Baik, tapi jangan lupa traktir yah.”

“ Beres, udah sana..” Miady kembali ke Rani yang gelisah dipinggir sungai,beberapa kali terlihat melihat jam.

“ katanya lima menit, ini hampir setengah jam.” Omel Rani.

“ Maaf sayang, yuk kita terusin.”

Pagi itu Miady sibuk mengumpulkan teman-teman, termasuk  megajak rani, Lulu dan Sendi melihat pertandingan balapan.

“ ngapain kita kesini. Aku bilang aku tidak mau.” Hariantio terlihat malas.

“ Dy, sebenarnya apa sih. Pasti ada yang penting “ tanya Sendi. “ Aku tahu kamu berjanji pada dirimu sendiri bakalan gakmau kesini. Apalagi sampai menonton pertandingan balapan. Ada apa ?” tanya Sendi.

“ Jadi sebenarnya kamu juga tidak mau Miady, “ kata Upik. “ Terus ngapain disini.”

“ Tunggu sebentar lagi.” Miady mengawasi jalanan kiri dan kanan menunggu kedatangan mimi.

Akhirnya Mimi datang  juga,  Miady langsung menyambut dan menarik tangan Mimi ke hadapan teman-temannya. Sejak acara Miady tarik tangan mimi. Muka Rani persis kaya nasib ayam gebuk.

“ Mimi sekarang coba kamu ceritakan malam dimana aku kata kamu pinsan “

“ Iya kamu pinsan, dan cewek ini mabuk.” Mimi tunjuk Sendi.

“ Apa masudnya ini.”kata Sendi.

“ Ah. Akumengerti.” Sela Yadi. Coba ceritakan lebih singkat.”

“ Iyah saat aku melintas dirumah itu aku melihat Miady pinsang dan kamu lagi teler, aku sama miady, tapi dia udah pinsan. Miady saat itu sedang dirangkul seorang pemuda aku kira itu temanmu yang lain yang tidak aku kenal. Habis itu  aku pergi saja. Karena aku tidak mau menganggu.”

“ Apa kamu lihat wajah laki-laki itu.”potong Yadi.

“ Sedikit, tapi suaranya aku kenal. Akuyakin jika akumelihatnya sekalilagi aku pastinya mengenalnya.” Dia malam itu memakai baju balapan motor, iya baju balapan.”ingatnya.

“ Nah karena itu aku membawanya kesini, Yadi kamu kan mencurigai Abu, nah kebetulan orangnya ada disini makanya kita ajak dia kesini.”

“ Apa ! yang melakukan itu abu, tidak mungkin, tidak bisa dupercaya.” Sendu Sendi.

“ kak, kakak tidak apa-apa ?” kata rani memegangi kakaknya.

“ tapi aku juga ingin tahu kebenarannya, ayo kita kesana.” Ajak Sendi tegar sambil mengusap air matanya yang telah mengering menuju arena balapan.

Di dalam arena semua sedang bersiap Franklin dan Abu satu jajar di garis depan. Sementara riuh penonton memberikan semangat untuk abu. Abu membuka kaca Helm.

“ Franklin, Tubuhnya benar-benar hangat, dengan dada yang besar huuuu, aku suka itu.” Oceh Abu ngaco.

(Dasar sinting) bathinnya.

Lampu Hijau menandakan bersiap-siap, semuanya bersiap untuk menjadi yang terbaik, dan ketika lampu kuning menyalana semua melaju dengan kecepatan tinggi. Abu memimpin. Lalu tiba-tiba terlitas Sendi dan Miady. “ Apa jadi, jadi bangsat itu yang memperkosanya, awas kamu Abuuuu..” Franklin menambah kecepatan dan saling kerjar-kejaran.

“ bagus sekarang kamu sadar, kalau aku yang merencanakan itu semua,  dasar orang-orang bodoh.” Gumam Abu. “ ayo terus Franklin keluarkan amarahmu, ha  ha ha ”

Miady sesekeli menalan ludah melihat Franklin yangterus mengila diatas moornya,“Gila  Franklin seperti orang gila, seperti akan membuatnya celaka.” Ocehnya. Miady lalu turun ke lapangan.

“ Franklin, kosentrasi, aku tahu apa yang ada dalam pikiranmu. Marah, dendam aku tahu. Persoalan itu bisa kamu selesaikan nanti setelah pertandingan.” Teriaknya.

“ Miady, sedang apa disini.” Kejut Abu.

“ Kau benar Miady, kau benar, aku harus kontrasi. Aku bisa saja mengahajarnya seteh pertandingan. Baik..”

Franklin kembali tenang dan mulai melaju pada kecepatan sedang, Miady terus memandu dan pada menit terahir ahkirnya Franklin menang, dengan beda tipis. Usai pertandingan Franklin mendatangi Abu dan menonjoknya, saat itulah Mimi, Rani, Lulu, Miady, Upik, Yadi, Hariant dan Melodi datang.

“ Iya dialah waktu malam itu, Aku yakin sekali,“ tunjuk Mimi.

Abu melihat Mimi berniat lari tetapi Fraklin telah memberikan bogem mentah Akibat pemukulan itu keduanya ditahan dikantor polisi. Dikantorr polisi Abu mengaku telah memperkosa Sendi, dan merekayasa, kalau Miady yang telah tidur dengan Sendi.

“ bagaiamana dengan bercak itu.” Tanya Yadi.

“ Aku sebenarnya telah mengikuti Franklin sejak awal pertandingan tepo dulu, jadi udah bagiku mengetahui apa yang sedang kamu lakukan sepanjang hari ini. Setelahaku memperkosanya aku kembalik kehotel, waktu itu aku melihat Franklin sedang main, tapi sebelumnya aku telah memberikan dosis obat tidur untuk Martinus, Roy, dan yang lainya dengan dosis rendah. Saat Franklin menuju kamar mandi itulah saya mengambil sampel cairan itu dan menyebarnya ke kain sprei di rumah Sendi, kebetulan rumahnya tidak terkunci, jadi akau leluasa keluar dan masuk. Apalagi mereka tidur seperti orang bati.” Aku Abu dihadapan polisi.

“ Dasar bajingan, “ caci Sendi dalam kaca tembus pandang itu mendengar pengakuanya yang norak dan menjengkekan serasa mau muntah. Air bening dari kelopak matanya terus membasahi pipinya, merasa hatinya sedang dipermainkan nasib.

“ Aku siap bertanggung jawab, “sesal Abu pasrah.

Saat itu juga keluarga Sendi dan keluarga Franklin datang kekantor polisi setelah mendapat kabar itu dari pihak yang berwajib, untuk menyelesaikan masalah keluarga itu sekali lagi.

“ Dasar bajingan, keparat, sekali lagi aku salah menilai orang. He, Abu gara-gara kamu aku menjadi orang bego, dan gara-gara kamu juga perkikahan anakku jadi berantakan besok kamu harus menikahi putriku. Apapun yang terjadi, ” Ayah Sendi meraih kerahnya dan menarik sehingga abu sempat tercekik lehernya.

“ Jadi perkawinan anak kita batal.” Kata Ayah Franklin.

“ Tidak Pah, aku akan tetap menikahi dihari itum tetapi bukan dengan Sendi melaikan Lulu, Jadi ditempat itu juga aku akan menikahi lulu, tolong restui pah. Ini untuk menebus kesalahanku dan juga sebagai pertangungjawabanku sebagai anak laki-laki.” Urai Franklin kemudian menemui Lulu,” Lu maukah kamu menjadi istriku,”

Lulu terdiam sepertinya sejenak berfikir akhirnya ia memutuskan menerimanya. Kantor polisi itu menjadi saksi bisu babak kehidupan baru. Sendi tidak ada pilihan terpaksa harus menikahi orang yang telah menodainya yaitu Abu.

Menyaksikan suasana itu Miady menitikan air mata, Rani terharu capur gembira  saking bahagianya ia meletakan kepalanya didada miady seraya memeluk. Yadi, Upik, melodi dan Harianto hanya tersenyum di koridor kaca yang tembus pandang di ruangan investigasi polisi itu menyaksian semuanya.

Ketika Miady dan Rani keluar dari ruangan itu sambil terus berpelukan dengan rani, Yadi, Upik, melodi dan Harianto mengikutinya.

“ Tepian mahakam Kenangan yang tak dapat aku lupakan, kamu masih ingat saat pertama kali kita bertemu dan mengutarakan cinta disana kan.” Pinta Miady.

“ Sayang, Tepian Mahakam juga kenanganku, karena disanalah aku menemukan jati diriku yang sebenarnya.”urai Rani makin mesra.

 

 

 ******  TAMAT  ******

 

One comment on “CERPEN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: