Tinggalkan komentar

SAKRALITAS KWANGKAY Upacara Adat Dayak


Oleh :

Zainuddin, Andreas Lawing

Alosius Bahron Osiq, dan Hamtolius Gati

 

Upacara Kwangkay yaitu upacara kematian terakhir yang termasuk dalam upacara adat kematian jenazah lama ( adet bangkey olaa). Upacara ini diadakan oleh para anggota keluarga yang masih hidup untuk para mendiang agar dapat tiba di tempat yang paling tinggai di Puncak Lurnut.

Kwangkay adalah puncak acara prosesi adat kematian pada suku Dayak Benuaq yang merupakan lanjutan dari upacara Kenyan. Suasana desa tempat penyelenggaraan Kwangkay sangat ramai bagai pesta, banyak orang dari desa lain berdatangan untuk berda­gang, atau hanya sekadar menyaksikan upacara tersebut.

Karena mahalnya biaya penyelennggaraan rangkaian upacara kematian inilah, suku bangsa Dayak Bering melaksanakan secara kolektif dan bergotong royong yang mereka sebut Sempeket.

Kwangkay, juga berarti buang bangkai, maksudnya melepaskan diri dari segala kedukaan dan mengakhiri masa berkabung, serupa pesta penutup sesudah wara.

Tulang tulang dibongkar, dibersihkan, dibungkus dengan daun dan dimasukkan keriring, peti kebesaran yang dihiasi secara sim­bolis. Setelah keriring dibawa berkeliiing rumah tujuh kali, diletak­kan dalam hutan di atas tanah.

Selain itu, pengadaan upacara Kwangkay juga dimaksutkan untuk menunaikan kewajian menghormati dan menghargai jasa jasa mereka yang meninggal, yang mungkin selama hidup mereka di dunia belum sempat atau tidak pernah mendapat penghormatan dan penghargaan yang semestinya dari para anggota keluarga.

Upacara adat Kwangkay dilakukan dengan perhitungan waktu tujuh hari dan atau dua kali tujuh hari pelaksanaan tuntas upacara intinya berlangsung selama Sembilan hari. Angka tujuh menurut mitologi penciptaan adalah angka “mati” untuk Ape Bungan Tanaa, karena itulah seterusnya dipergunakan sebagai dasar utama perhitungan dalam penyelengaraan upacara.

Sementara itu, Gubernur Kaltim H Awang Faroek Ishak Upacara Kwangkay merupakan Aset kepariwisataan Kalimantan Timur mulai bangkit.

Hal ini lantaran pemerintah pusat mulai serius ‘menggarap’ obyek wisata di luar Pulau Jawa dan daerah tujuan wisata lainnya yang lebih dulu populer di negera negara konsumen wisata.

Keseriusan pemerintah pusat lewat Undang Undang Nomor 10 Tahun 2009, bahwa pariwisata merupakan bagian integral dari pembangunan nasional yang dilakukan Secara sistimatis, terencana, terpadu, berkelanjutan clan bertanggungjawab terhadap nilai nilai agama, budaya, yang hidup dalam masyarakat, kelestarian dan mutu lingkungan hidup dan kepentingan nasional.

Menurut saya merupakan apresiasi pemerintah terhadap daerah daerah lain, termasuk Kalimantan Timur untuk meng-eksplor obyek dan atraksi wisata di Bumi Etam ini.

“ Adat istiadat Dayak, seperti juga adat istiadat suku suku lain di Indonesia merupakan aset, warisan budaya yang tak ternilai harganya, yang belakangan malah dilindungi oleh Undang Undang cagar budaya dalam perspektif kepariwisataan.” Ujar Awang faroek.

Beberapa prosesi dalam upacara sakral Kwangkay perlu ditata dan atau dikembalikan pada filosofi asal Kwangkay . Perlu ada keseimbangan antara ritual religi dan seremoni agar tak bertentangan dengan nilai hukum adat dan sistim hukum formal Indonesia sehingga tercipta keselarasan di tengah masyarakat pendukungnya. Dengan dilestarikannya Upacara Adat Kwangkay dapat memperkaya khasanah budaya Kalimantan Timur.

Segenap Penyelengara Upacara Kwangkay, Alosius Bahron Osiq, Hamtolius Gati, Zainuddin, dan Andreas Lawing, mengucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak yang turut memperlancar acara upacara adat dayak KWANGKAY.(**)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: