Tinggalkan komentar

Bupati Kubar: Pemerintah Pusat Tidak Taat Hukum


SENDAWAR, Gerakan Aktif

Bupati Kutai Barat Ismail Thomas menilai Pemerintah Pusat tidak adil dan transparan terkait dana bagi hasil yang disetor Kaltim setiap tahunnya. Bahkan menurut Thomas pemerintah pusat menabrak UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah, dimana bagi hasil minimal 15 persen, namun yang terjadi di bawah 10 persen.

“Makanya salah satu langkah yang dilakukan 14 Bupati/Walikota se Kaltim yang dipimpin Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak meminta keadilan terhadap pemerintah pusat melalui Mahkamah Konstitusi (MK) agar pembagian dana bagi hasil sesuai UU yang berlaku,” ungkap Thomas saat ditemui di ruang kerja Bupati Kubar, Jumat (3/2).

Coba bayangkan Provinsi Kaltim yang memiliki luas wilayah 1,5 kali Pulau Jawa setiap tahun hanya mendapatkan dana bagi hasil di bawah 10 persen. Thomas mengatakan, masih segar dalam ingatan ketika 2001 Kaltim menyetor dana bagi hasil ke Pemerintah Pusat Rp 100 triliun, namun yang kembali hanya Rp 8,9 triliun. Pada 2010 Kaltim menyetor Rp 320 triliun, namun yang kembali hanya Rp 27 triliun. Artinya, sejak 2001 sampai 2012, dana bagi hasil yang dikirim kembali ke Kaltim rata-rata masih di bawah 10 persen. Sedangkan UU bagi hasil menimal 15 persen.

Sementara, Pemprov Aceh mendapatkan alokasi dana bagi hasil hingga Rp 30 triliun dari devisanya yang mencapai Rp 100 triliun. Demikian halnya dengan Papua yang juga mendapatkan dana bagi hasil Rp 30 triliun dari Rp 100 triliun.

“Kok bisa seperti ini yang terjadi, sementara pemerintahan di daerah dan masyarakat Indonesia diminta untuk tunduk dan taat pada hukum. Sedangkan pemerintah pusat tidak taat kepada hukum,” lontarnya tegas.

Sejak Indonesia merdeka hingga jaman reformasi, kondisi negara ini semakin parah, lanjut Thomas, dibandingkan dengan jaman kerajaan-kerajaan yang ada di Indonesia. Kalau jaman kerajaan, raja di pusat menerima upeti yang disetor setiap kadipaten yang ada dalam kerajaan tersebut.

Selanjutnya, kadipaten memiliki kewenangan mengelola ekonominya sendiri, dan setelah itu setiap pendapatan kadipaten dibagi dua antara kadipaten dengan kerajaan. Dan kadipaten langsung menyetor upetinya ke rajanya.

Namun, di jaman kemerdakaan ini, yang terjadi semua upeti disetor ke pemerintah pusat lalu baru dibagikan ke daerah, bahkan perparah lagi ternyata di bawah 10 persen.

Terkait dengan dana bagi hasil, Thomas mengatrakan, ini bukan semata-mata perjuangan Bupati/ Walikota dan Gubernur Kaltim, namun ini merupakan aspirasi masyarakat Kaltim. Baik masyarakat adat, perkotaan dan perbatasan yang meminta sikap pemerintah pusat transparan dan berkeadilan, karena dirasakan adanya perlakuan yang tidak adil.

Harapan kedua, kondisi infrastruktur Kaltim yang sangat jauh tertinggal dibanding daerah lain, khususnya jalan yang rusak parah bahkan hancur lebur saat datangnya musim penghujan. Seperti jalan penghubung antara Samarinda dengan Kubar, Berau, Bulungan, Kutai Timur dan Malinau tidak dapat dilalui, karena rusak berat. Alokasi dana pendidikan masih sangat minim, walaupun telah ada dana BOS dari Pusat, BOSDA dari Provinsi dan BPPD dari Kubar.

Thomas menegaskan kepada pemerintah daerah di luar Kaltim, bahwa perjuangan bagi hasil yang dituntut masyarakat Kaltim sama sekali tidak akan mengurangi Dana Alokasi Umum (DAU) daerah lain. Kaltim hanya perjuangkan keadilan akan bagi hasil mencapai 10 persen, karena sama sekali tidak sampai sehingga sungguh-sungguh tidak menganggu daerah lain. Seperti yang dilakukan Pemerintah Sinjai yang mengancam tidak akan mengirimkan beras, sayur, sapi ke Kaltim, kalau itu sampai Kaltim memperjuangkan dana bagi hasil itu.

“Janganlah mengancam seperti itu, seharusnya dengar dulu permasalahannya, kami hanya memperjuangkan 10 persen bagi hasil dari Rp 130 triliun dan diperkirakan Rp 50 triliun yang disetor ke Kaltim. Kami hanya memperjuangkan haknya Kaltim saja kok,” tandasnya.  (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: