Tinggalkan komentar

WASPADAI IMBAS AKTIFITAS


TAMBANG BATU BARA DI PULAU BUNYU

 

Perlu diwaspadai pencemaran sungai dan air laut di pesisir pantai,seperti halnya di pulau Bunyu akibat maraknya aktifitas tambang batubara. Maka di duga kuat limbah organic/domestik, serta erosi berskala besar di daerah resapan air akan terjadi pencemaran. Dengan demikian apapun parameter yang dipakai untuk menganalisa dampak lingkungan,namun tingginya parameter logam berbahaya yang berasosiasi dengan aktifitas domestic maka tidak pelak lagi akan nmasuk ke dalam kategori pencemaran, karena tidak memenuhi baku mutu lingkungan yang berdampak,apakah air minum yang dikonsumsi ataupun kelangsungan hidup     Muh.Leonama              habitat laut dan lainnya, tetap diwaspadai terus-menerus.

Wartawan Kayan Fakta Post ketika meliputi di lokasi tambang PT.ADANI GLOBAL menemukan kolam air pada bibir tambang,keadaan airnya berwarna hijau dipermukaan. Kondisi ini mencerminkan baku mutu pencemaran lingkungan akan terjadi kedepan, apabila tidak dicermati dan diteliti dengan baik oleh dinas/instansi terkait. Sungguhpun masyarakat awam tidak memahami apa itu Amdal, apa itu limbah dan unsure kimia yang meliputi pencemaran sehingganya rasa kekuatiran masyarakat yang hidup disekitar aktifitas tambang janganlah dianggap berlebihan atau mengada-ada. Memang Pulau Bunyu senantiasa menjadi sorotan dan liputan media cetak tak kunjung henti,mengapa hal itu terjadi ? jawabnya adalah “sistem” ketika kita berada disuatu system yang asalah pada awalnya maka akan melahirkan gerutu beribu mulut tentang musim yang makin resah,akibat system yang dibanggakan oleh perusahaan pemegang kuasa pertambangan () serba pincang membuat Pulau Bunyu semakin asyik untuk dibicarakan. Bukan saja masalah amdal tetapi masih banyak permasalahan yang harus dicarikan solusinya seperti belum berbicara masalah hutan lindung,reklamasi lahan,belum lagi limbah B3 kemana disimpan atau dikuburkan tidak jelas. Emosional sekali karena limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) diminta koperasi yang jelas berbadan hukum didampingi PT pemegang ijin limbah B3. Tidak diberi dengan berbagai alasan. Pertanyaannya kemana limbah itu dibawa atau dijual sama siapa?

 

Bahasa exstimnya bahwa Pulau Bunyu ini hanya tinggal manusianya saja yang tidak dibawa ke India,sedangkan isi perut bumi Bunyu habis terkuras dibawa ke India. Sampai-sampai limbah sampahpun dikelola sendiri malah diminta koperasi tidak diberi. Kalau diberi kepada orang perorang atau kelompok yang tidak memiliki badan hukum sama halnya menghilangkan pajak dan retribusi belum lagi berbicara tenaga kerja yang akibat system yang menekan,sehingga membuat karyawan bekerja penuh rasa pasrah demi sesuap nasi. Apalah artinya masyarakat sisatu sisi diminta berterima kasih,bersyukur adanya perusahaan tambang batu bara sementara disisi lain para pengelola management perusahaan dengan statement bahwa “RUGI” dan rugi terus di Pulau Bunyu. Andaikan itu sebuah pertanyaan maka jawabannya sangat sederhana, kalau rugi kenapa harus bertahan? Silahkan banting setir kemana saja kamu mau.

Hal demikian yang mengundang gerutu beribu mulut tentang musim yang makin resah,akibat system yang dibangun perusahaan.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: